Episode Negeri Mimpi

28 Januari 2010, Iluminasi Nasib Indonesia Masa Depan?

Posted by Yainal on Jan 28, 2010 in Asides | 1 Comment

Dancing in Stuttgart Germany

Selamat berdemokrasi kawan.. saya akan bawa MERAH PUTIH itu dengan cara dan style a la saya sendiri… so, prepare your weapon… see you in CeBIT and Hannover Messe 2012..

Untaian kata dalam kalimat di atas sebenarnya adalah rangkaian dari dua status update di halaman profil Facebook yang saya miliki pada hari ini, 28 Januari 2010.

Hari ini, 28 Januari 2010, di bagian lain dari pulau Jawa ini, atau bahkan di beberapa bagian lain dari Indonesia, sedang terjadi suatu momentum nasional untuk memperingati 100 hari pemerintahan SBY, presiden terpilih pada Pemilu 2009 yang lalu. Bahkan, sejauh yang saya tahu, gerakan untuk memperingati 100 hari pemerintahan ini terlihat gaungnya yang cukup besar di media, baik itu offline traditional ataupun online nasional. Dan suara terbesar sih keknya memang tidak puas dengan hasil yang diperoleh dari kinerja pemerintahan selama 100 hari ini. CMIIW..

Tidak jauh berbeda dengan Jakarta atau beberapa bagian daerah lain di Indonesia, di Jogjakarta pun kita bisa melihat hal yang sama. Setidaknya, itulah yang terlihat di mata saya ketika pulang dari bank siang tadi. Dan melihat hal itu, ingatan saya kembali terputar pada apa yang terjadi pada sekian tahun ke belakang di 1997 – 1998.  Satu pertanyaan sederhana, akankah sejarah berulang?

Bagi saya, jika sejarah memang harus berulang, bukanlah sekarang waktunya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat, terlebih disaat kita semua sebagai bangsa sedang membangun pondasi “baru” dalam panggung peradaban umat manusia. Pasar bebas China – ASEAN yang sudah terjadi, Pilkada 2010 yang terjadi di lebih dari 100 daerah di Indonesia, pertaruhan nasib bangsa di 2014, dan masih banyak lagi kondisi yang membuat kita sebagai bangsa belumlah cukup siap untuk menerima dirinya sendiri. Pun jika sejarah harus berulang, kita cukup pintar dan cerdas kok untuk mengulang sejarah yang mana yang harusnya kita ulang.

Secara pribadi, dan melihat dari kacamata dunia dimana saya hidup saat ini, Merah Putih dan Garuda adalah dua simbol yang selalu saya pegang sebagai representasi dari satu kata Indonesia. Dalam pandangan saya, ikatan sejarah hidup, emosi dan mungkin juga keyakinan akan hal tertentu yang ditambah dengan kebanggaan akan jati diri sebagai orang pilihan (the choosen people) seharusnya bisa membentuk orang untuk membanggakan bangsanya untuk selalu menjadi pembicaraan di atas panggung sejarah peradaban umat manusia. Penderitaan dan kekecewaan yang bersatu padu dalam cinta dan harapan akan sesuatu pun selayaknya bisa menghasilkan suatu bangsa yang unik. Dan inilah seharusnya yang terjadi, terlebih di saat seperti ini. Bangsa ini besatu padu untuk tumbuh kembali menjadi bangsa yang unik dengan segala kekuatan yang dimilikinya dan bersatu padu untuk menorehkan tinta emas di atas buku sejarah peradaban dunia kembali.

Ya, apa yang terjadi hari ini, 28 Januari 2010, bisa jadi adalah iluminasi dari nasib suatu bangsa di masa depan nanti. Namun, pertanyaan dari saya, akahkan proses iluminasi itu hanya akan berlangsung sebentar (flouresensi), atau berlangsung lama (fosforisensi)? Marilah tengok itu semua dalam diri sendiri, dan biarkan nurani berbicara.

Bagi saya, dan juga bagi beberapa rekan lainnya, kami memilih melakukannya dengan cara dan style a la kami sendiri. Dalam pikiran kami, torehan tinta dalam sejarah itu menuliskan bahwa nasib suatu bangsa memang tidak akan bisa lepas dari jalan sejarah yang membentuknya. Karakter dan kepribadian suatu bangsa pun akan ditentukan pula oleh para putra dan putri dari bangsa itu sendiri. Sebagai satu kesatuan, atas nama bangsa dan bukan atas nama kepentingan pribadi, keinginan golongan ataupun berdasarkan pandangan tertentu. Inilah yang mungkin banyak terlupa, atau mungkin hanya terfokus pada satu atau dua karakter utama saja.

Ya, dalam sejarah, Indonesia bukanlah sebuah novel yang terdiri dari beberapa karakter utama saja dan habis dibaca dalam sepenggalan waktu. Masih banyak hal yang bisa kita torehkan melalui tinta emas itu sebagai bangsa, bukan sebagai individu, golongan atau pandangan tertentu. Masih banyak karakter dan pahlawan yang bisa muncul dalam perjalanan bangsa ini.

Sudah saatnya kita bangkit kawan.. sudah terlalu lama kebanggaan kita terhadap kata “asing” atau “luar negeri” itu berada dalam lingkungan kita, dan saat ini adalah waktunya kata “asing” dan “luar negeri” itu bangga terhadap kata “INDONESIA”… let’s shake our hands, make some collaboration and dancing around above the 5 continents..

*image taken by Aji Bimarsono

Comments

One Response to “28 Januari 2010, Iluminasi Nasib Indonesia Masa Depan?”
  1. Murdani Eko says:

    Beberapa mahasiswa sepertinya ingin menjadi pahlawan seperti para pendahulunya tahun 1997 – 1998. Mereka berteriak “turunkan.. turunkan..”, melakukan BANYAK anarkisme, lalu berharap bisa menggulingkan pemerintahan, dan mereka menjadi pahlawan.

    Bukankah ada banyak cara untuk melakukan reformasi dan revolusi? Mengapa mereka masih tidak menyadari bahwa pena jauh lebih kuat daripada aksi massa? Jika ingin bercermin dari sejarah masa lalu, perlawanan yang terbukti berhasil dari Soekarno, Hatta, Douwes Dekker, dan banyak contoh lainnya adalah melalui TULISAN.

    Aksi massa adalah andalan gerak PKI. Dan mereka terbukti GAGAL…

Leave a Reply