Mempelajari Trend, Merengkuh Pasar

TrendMempelajari tren yang terjadi di pasar selayaknya menjadi kebutuhan bagi semua usaha. Tidak terkecuali bagi mereka yang masih tergolong dalam kategori Usaha Kecil Menengah (UKM), apalagi yang sudah berorintasi ekspor. Setiap detik, pasar selalu penuh dengan produk baru dari seluruh produsen. Dan bagi mereka yang berorientasi ekspor, persaingan ketat terjadi untuk mendapatkan perhatian dari para pembeli. Disinilah kemudian fungsi dari mempelajari tren tersebut. Contoh sederhana, kombinasi tren-tren di Amerika dan Eropa bisa menciptakan kesempatan bagi produsen produk interior rumah dari Indonesia.

Mempelajari tren, hendaknya dilakukan secara kontinyu. Kenapa? Karena pada dasarnya tren ini selalu berubah. Tidak jarang banyak tren yang bermunculan sekaligus dan membentuk beberapa.. bahkan kadang juga berbenturan. Untuk itu, pilihlah tren yang sesuai dengan kekuatan yang dimiliki dan juga target konsumen yang dibidik. Produk dengan berbahan dasar bambu misalnya, produk ini cenderung mengikuti tren gaya hidup lebih hanya sekedal mebel saja.

Satu yang perlu diperhatikan dari tren ini adalah masa hidup dari suatu produk. Perubahan tren yang selalu terjadi membuat suatu produk hanya bisa bertahan tidak lebih dari 18 buan saja. Tidak jarang, masa hidup produk ini hanya cuman 6 bulan saja untuk di beberapa negara tertentu. Walau begitu, tren ini akan selalu berulang. Tidak pasti memang jangka waktunya, dan ini perlu kejelian tertentu. Kasus nyata yang dimiliki oleh APIKRI, ada tren produk yang berulang setiap 4 tahunnya.

Bagaimana dengan tren produk sekarang? Secara umum, jawabannya adalah sustainable and environment friendly.

Maksudnya apa? Sederhana. Saat ini adalah masa-masa dimana produk-produk berlabel “hijau” dan ramah lingkungan. Salah satu contoh adalah pasar AmerikaMenurut informasi dari APIKRI, disana terdapat sekitar 36 juta konsumen yang tergolong dalam segmen yang paling cepat tumbuh. Jika tersedia dan bisa memenuhi kebutuhan yang diinginkan, 66% dari angka tersebut lebih memilih produk yang ramah lingkungan. Dan ini adalah pasar yang fantastis. Sekitar 230 hingga 500 milyar dollar dibelanjakan di tahun 2005 untuk produk-produk dan pelayanan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pasar ini akan terus diperkirakan tumbuh dengan nilai sekitar 845 milyar dollar pada tahun 2015.

Apakah produk-produk dari Indonesia bisa bersaing disitu? Bisa!

Produk-produk dari Indonesia memiliki banyak keunggulan. Mulai dari bahan-bahan yang alami dan mudah dibudidayakan, pembuat produk yang memiliki keahlian tinggi, proses produksi yang fleksibel serta sentuhan rancangan yang bernilai budaya dengan gaya yang banyak disukai, dan sebagainya. Masalahnya, keunggulan-keunggulan tersebut kurang diperhatikan. Beberapa hal yang perlu dicermati adalah kurangnya inovasi, kurangnya informasi tren yang berkembang, kualitas yang kurang terjamin serta tingkat pelayanan konsumen yang masih rendah. Selain itu, permodalan dan keuangan memang juga menjadi kendala. Penting, tapi bukan itu yang utama. Terbukti, dalam masa krisis banyak UKM yang tidak roboh.

Nah sekarang, darimana kita bisa memeroleh informasi tersebut? Banyak sumber. Data dan informasi bisa kita peroleh dari surat kabar yang kita baca, televisi yang kita tonton, berita dan artikel dari internet, dan sebagainya. Masalahnya, data dan informasi ini perlu diolah terlebih dulu agar memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Note:
Di tangan yang berbeda, data dan informasi yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda pula… :)

*oleh-oleh dari Business Development Workshop, Gabusan – Jogja.
*gambar diambil dari sini

3 Comment(s)

  1. Wuih..tulisannya bagus banget Mas…pencerahan buat mereka mereka yang lagi puyeng mau berbisnis.
    Salam Kenal

    salam kenal balik:)

    FAD | May 23, 2008 | Reply

  2. sebetulnya baca blog ini agak bingung mas… berat berat dan bukan bidang saya hehe

    tapi baca yang ini jadi dibaca bener

    dan dikirim linknya ke orang yang konon kabarnya mau berbisnis! huhuhu

    doakan sukses dan terimakasih! :D

    salam kenal btw

    moga rekannya yang mo berbisnis bisa cepet sukses.. *salam kenal balik.. :) *

    natazya | May 24, 2008 | Reply

  3. iya…biar selalu ada di stage maturity.. jangan sampai decline :)

    idealnya memang seperti itu, tp dalam prakteknya kadang kenyataan berbicara lain juga.. :)

    wennyaulia | May 25, 2008 | Reply

4 Trackback(s)

  1. Jun 1, 2008: from Internet bagi UKM? Harus! : Yainal.Web.Id
  2. Jul 22, 2008: from British Council Indonesia - NOW 60 » Blog Archive » Apa saja yang pemenang tulis tentang Knowledge Economy?
  3. Aug 2, 2008: from 6 Tips untuk Memasarkan Diri (sebagai Pekerja Independen) : Yainal.Web.Id
  4. Nov 3, 2008: from Buatlah Produk yang Bisa Dijual, Bukan Menjual yang Bisa Dibuat : Yainal.Web.Id

Post a Comment