Episode Negeri Mimpi

Etnografi, Tools for Development

Posted by Yainal on Jul 5, 2008 in Data Intelligence | 10 Comments

EthnographyJika Ibu Amalia E. Maulana adalah seorang Brand Consultant dan Ethnographer yang bergerak (dan fokus) di bidang bisnis, maka saya masih cenderung generalist. Hal ini tidak lepas dari aktivitas saya yang masih berloncatan dari sana ke sini tergantung ruang lingkup pekerjaan. Maksudnya, tidak melulu berkutat di bidang yang berhubungan dengan bisnis saja..

Contohnya saja sekarang. Saat ini saya sedang meramu mimpi.. mimpi sang (calon?) pemimpin bangsa yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa ini. Untuk meramu mimpi ini pun, saya tidak (bekerja) sendirian.

Masalahnya, bagian yang menjadi tanggung jawab saya tidak bisa lepas dari data yang informasi. Akibatnya, beberapa waktu terakhir ini pun data intelligence banyak mewarnai hari-hari yang saya lalui. Membaca dan membaca pun menjadi aktivitas yang tidak terelakkan lagi. Beberapa sumber informasi pun menjadi lahan buruan, baik itu buku, jurnal, laporan akademis maupun data dan informasi (mentah) yang bertebaran di internet.

Nah, salah satu bagian yang menjadi obyek dari apa yang sedang saya lakukan adalah sejarah bangsa. Bagian ini menjadi penting karena apapun yang telah terjadi saat ini tidak lepas dari sejarah. Pada awalnya, saya mengalami banyak kendala disini. Maklum, banyak bias informasi. Persepsi dan pendapat yang ada pun tergantung disisi mana sang pelaku sedang berdiri. Selain itu, (tak jarang) emosi diri pun kadang juga tergelitik. Syukurlah, deadline akhirnya mengembalikan ritme kerja dan obyektivitas. Alhasil, etnografi yang sedang saya lakukan pun kembali ke jalan yang benar.

Ya, saya menggunakan metode etnografi dalam aktivitas yang saya lakukan ini. Menurut Ibu Amalia, ini adalah cutting edge research. Dan jika dulu penerapannya hanya lebih banyak pada bidang sosial budaya, maka dalam perkembangannya etnografi sudah banyak diterapkan pada banyak bidang. Misalnya saja etnografi pemasaran,  etnografi politik (untuk pilkada) dan sebagainya. Bahkan, jika mau, etnografi pun bisa diintegrasikan untuk keperluan pengembangan organisasi.

Ada yang mau menambahkan?

Beberapa referensi tambahan (update: 07.07.2008):

*gambar diambil dari sini

Comments

10 Responses to “Etnografi, Tools for Development”
  1. anton says:

    aku nyumbang doa ae, cak. hehe. etnografi blogging wis enek rung? perlu juga kuwi. jd kita nanti bikin lamonganensis utk blogger lamongan. :D

    hahaha.. lamonganensis.. apik.. apik kuwi.. :)

    btw, etnografi online sudah ada beberapa yang melakukan.. misalnya saja untuk keperluan personal branding yang dilakukan oleh Pak Nukman Luthfie sekarang ini..

  2. mas yain seorang generalis? wah, ini malah menguntungkan, tidak terkotak-kotak dalam spesialisasi tertentu. akan sangat bermanfaat setelah nanti bener2 menggeluti suatu bidang. ethnografi agaknya mulai dilirik menjadi pendekatan yang bersifat multidisipliner, ya, mas. ok, salam kreatif!

    sejarah (hidup) dan ruang gerak yang ada sekarang ini membuat saya masih generalis pak.. :)

  3. icha says:

    cuma mau nambahkan sedikit saja..

    membaca tulisan ini, saya lalu sedikit mengorek-ngorek lagi pengertian saya tentang etnografi sendiri. saya khawatir jika pemahaman etnografi yang saya miliki ndak sama dengan yang dimaksudkan pada tulisan ini

    dan yang ada dalam pemikiran saya, terwakili dengan link di bawah ini
    http://edw08.freewebhosting360.com/web/?p=14

    apakah metode etnografi yang digunakan AYA dalam data intelegence juga sama seperti yang dimaksud di link itu?

    LIFE,
    untuk mempermudah pemahaman dan menyamakan persepsi, saya sudah menambahkan beberapa link tambahan diatas. memang, salah satu pemakaian yang umum untuk etnografi adalah di bidang sosial budaya. meski begitu, bukan berarti disiplin bidang yang lain tidak dapat memakainya kan? itu jika kita berpegang pada filosofi dasar dari ilmu pengetahuan itu sendiri..
    :)

  4. mohammad says:

    what a useful post.
    salam kenal
    keep blogging,
    mi

    thanks.. and salam kenal balik.. :)

  5. khofia says:

    ndak paham saya… numpang lewat ajah…

    monggo.. :)

  6. anton says:

    mbok yo update, mas. :)

    btw, seneng jg lihat iqbal udah mampir. kuwi arek babat sing saiki ning bahrain. biyen konco mabuk waktu ning bali. tp saiki wis dadi kaji. :D

    trus, kapan sido nggawe lamonganensis?

    *kok aku dadi primordial gini ya. semangat bgt ketemu blogger satu kampung. hahaha..

    update? done!

    lamonganensis? tinggal buat aja kan.. :)

  7. Amalia says:

    Salam kenal Mas Yainal, sesama ethnographer.

    Thanks sudah membahas tentang tulisan saya di blog ini.
    Kapan2 perlu ketemu ya kita, siapa tau ada project2 yang bisa dikerjakan bareng?

    Salam ethnography!

  8. Yainal says:

    Salam kenal juga Bu..

    Keliatannya asyik nih kalo kita bisa ketemuan dan saling berbagi.. :)

  9. nino says:

    ni ada etnografi untuk design produk2 industri..

    liat di http://www.edw2009.ft.ugm.ac.id

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. [...] waktu yang lalu. Dan saat itu, aktivitas membaca itu lebih banyak saya lakukan atas nama tuntutan telusur sejarah. Tidak [...]



Leave a Reply