Etnografi, Tools for Development
Jika Ibu Amalia E. Maulana adalah seorang Brand Consultant dan Ethnographer yang bergerak (dan fokus) di bidang bisnis, maka saya masih cenderung generalist. Hal ini tidak lepas dari aktivitas saya yang masih berloncatan dari sana ke sini tergantung ruang lingkup pekerjaan. Maksudnya, tidak melulu berkutat di bidang yang berhubungan dengan bisnis saja..
Contohnya saja sekarang. Saat ini saya sedang meramu mimpi.. mimpi sang (calon?) pemimpin bangsa yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa ini. Untuk meramu mimpi ini pun, saya tidak (bekerja) sendirian.
Masalahnya, bagian yang menjadi tanggung jawab saya tidak bisa lepas dari data yang informasi. Akibatnya, beberapa waktu terakhir ini pun data intelligence banyak mewarnai hari-hari yang saya lalui. Membaca dan membaca pun menjadi aktivitas yang tidak terelakkan lagi. Beberapa sumber informasi pun menjadi lahan buruan, baik itu buku, jurnal, laporan akademis maupun data dan informasi (mentah) yang bertebaran di internet.
Nah, salah satu bagian yang menjadi obyek dari apa yang sedang saya lakukan adalah sejarah bangsa. Bagian ini menjadi penting karena apapun yang telah terjadi saat ini tidak lepas dari sejarah. Pada awalnya, saya mengalami banyak kendala disini. Maklum, banyak bias informasi. Persepsi dan pendapat yang ada pun tergantung disisi mana sang pelaku sedang berdiri. Selain itu, (tak jarang) emosi diri pun kadang juga tergelitik. Syukurlah, deadline akhirnya mengembalikan ritme kerja dan obyektivitas. Alhasil, etnografi yang sedang saya lakukan pun kembali ke jalan yang benar.
Ya, saya menggunakan metode etnografi dalam aktivitas yang saya lakukan ini. Menurut Ibu Amalia, ini adalah cutting edge research. Dan jika dulu penerapannya hanya lebih banyak pada bidang sosial budaya, maka dalam perkembangannya etnografi sudah banyak diterapkan pada banyak bidang. Misalnya saja etnografi pemasaran, etnografi politik (untuk pilkada) dan sebagainya. Bahkan, jika mau, etnografi pun bisa diintegrasikan untuk keperluan pengembangan organisasi.
Ada yang mau menambahkan?
Beberapa referensi tambahan (update: 07.07.2008):
- Insights via Ethnograpy
- Netnografi, Mengamati Tingkah Polah Online
- Profesi Baru di Indonesia: Ethnographer di Bidang Marketing
*gambar diambil dari sini















aku nyumbang doa ae, cak. hehe. etnografi blogging wis enek rung? perlu juga kuwi. jd kita nanti bikin lamonganensis utk blogger lamongan.
mas yain seorang generalis? wah, ini malah menguntungkan, tidak terkotak-kotak dalam spesialisasi tertentu. akan sangat bermanfaat setelah nanti bener2 menggeluti suatu bidang. ethnografi agaknya mulai dilirik menjadi pendekatan yang bersifat multidisipliner, ya, mas. ok, salam kreatif!
cuma mau nambahkan sedikit saja..
membaca tulisan ini, saya lalu sedikit mengorek-ngorek lagi pengertian saya tentang etnografi sendiri. saya khawatir jika pemahaman etnografi yang saya miliki ndak sama dengan yang dimaksudkan pada tulisan ini
dan yang ada dalam pemikiran saya, terwakili dengan link di bawah ini
http://edw08.freewebhosting360.com/web/?p=14
apakah metode etnografi yang digunakan AYA dalam data intelegence juga sama seperti yang dimaksud di link itu?
what a useful post.
salam kenal
keep blogging,
mi
ndak paham saya… numpang lewat ajah…
mbok yo update, mas.
btw, seneng jg lihat iqbal udah mampir. kuwi arek babat sing saiki ning bahrain. biyen konco mabuk waktu ning bali. tp saiki wis dadi kaji.
trus, kapan sido nggawe lamonganensis?
*kok aku dadi primordial gini ya. semangat bgt ketemu blogger satu kampung. hahaha..
Salam kenal Mas Yainal, sesama ethnographer.
Thanks sudah membahas tentang tulisan saya di blog ini.
Kapan2 perlu ketemu ya kita, siapa tau ada project2 yang bisa dikerjakan bareng?
Salam ethnography!
Salam kenal juga Bu..
Keliatannya asyik nih kalo kita bisa ketemuan dan saling berbagi..
ni ada etnografi untuk design produk2 industri..
liat di http://www.edw2009.ft.ugm.ac.id