Buatlah Produk yang Bisa Dijual, Bukan Menjual yang Bisa Dibuat
Dalam sebuah pelatihan, terlihat A Fung sedang memberikan materi pelatihan tentang product development. Dia menjelaskan bagaimana mengembangkan suatu produk yang dilandasi oleh pengamatan terhadap trend yang ada, analisis pasar sederhana dan strategi pemasaran berbasis fair trade dan internet. Sambil menjelaskan, A Fung pun tak lupa menunjukkan beberapa hasil kreasi pengembangan produk yang dilakukan perusahaannya. Tak lupa, A Fung pun membumbui penjelasan yang dilakukannya dengan sedikit humor agar para peserta pelatihan tidak bingung.
Setelah dirasa semua materi sudah tersampaikan semua, A Fung pun membuka sesi tanya jawab. Salah seorang peserta pun kemudian mengacungkan jarinya ke atas. Melihat itu, A Fung pun berkata, ”Silahkan Bapak, monggo…”.
”Bu, saya kemarin habis pulang dari pameran di Timur Tengah. Kebetulan, saya dapat kesempatan ikut di sana. Pamerannya ruaameee Bu…wes lah, jan ruameee polll… Nah, pas pameran itu ada banyak buyer yang tertarik sama produk saya Bu. Mereka bilang produk saya bagus dan bisa laku di sana… tapiii…. ada tapinya Bu..”, kata sang Bapak membuka diskusi.
”Tapi-nya itu apa Pak?”, tanya A Fung.
”Begini Bu, mereka bilang kalo produk saya itu harus dimodifikasi sedikit lagi agar bisa laku di sana. Baru setelah itu mereka mau pesan”, jawab sang Bapak.
”Hmm.. oke.. ada informasi tentang apa yang harus dimodifikasi Pak?”, tanya A Fung kembali.
”Iya, ada. Katanya sih produk yang hanya hasilkan itu harus mudah dibersihkan. Nah ini yang buat saya bingung.. Mbok ya tulung, saya ini dibantu…”, kata sang Bapak.
Mendengar itu, A Fung pun menjawab, ”Pak, untuk membantu dalam bentuk nyata.. sebenarnya saya perlu melihat langsung produk yang Bapak maksudkan tadi.”.
”Waduhh… ndak saya bawa Bu.. Gini aja deh Bu, kapan Ibu punya waktu.. mbok yo main ke tempat saya.. ”, kata sang Bapak.
”Bisa Pak, itu bisa kita atur. Nah, jika begitu.. sebagai gambaran awal saya coba jelaskan dulu beberapa karateristik produk untuk Timur Tengah dulu aja ya.. ”
”Boleh Bu.. saya rasa temen-temen juga membutuhkan informasi itu..”
A Fung pun kemudian menjelaskan beberapa poin karateristik produk-produk untuk Timur Tengah. Sambil menjelaskan, A Fung pun tak lupa mengingatkan untuk membuat produk yang bisa dijual dan bukan menjual produk yang bisa dibuat. Ini berarti, meski berbasis idealisme, pengrajin pun harus mau beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
*pernah mengalami hal serupa? mari berbagi
*gambar diambil dari sini















bicara dari sisi saya, yang (sok) berani menyatakan diri sebagai penulis…ada juga permasalahan yang serupa.
produk seorang penulis adalah tulisan.
hasil dari bincang-bincang dengan sesama penulis beberapa waktu lalu, kami kebingunan dengan memadukan sisi idealisme untuk membuat tulisan skenario tayangan tv yang mendidik harus bertempur dengan terpaan komersialisme tv yang justru menginginkan naskah yang laku dijual. laku dijual itu notabene mengikuti trend sinetron sekarang yang menurut kami jauh dari mendidik, jauh dari pembelajaran moral. Liat saja dialog dan ceritanya, melulu rebutan harta, tahta dan cinta.
mumpung euforia laskar pelangi bertendensi naik dan disukai, keinginan kami untuk membuat tulisan dan tayangan untuk pembelajaran moral jadi berkembang lagi.
Tapi gimana ya memadukan idealisme itu dengan tuntutan laku dijual itu tadi?
buat mbak icha
sekedar saran yang mudah2an bermanfaat,
klo mbak liat karya2 dedi mizwar saya rasa itulah contoh nyata perpaduan idealism & commercial project yang bagus. kita liat karya “kiamat sudah dekat dan nagabonar jadi dua” disana ada pesan dakwah, pesan nasionalisme yang dapat masuk kebenak pemirsanya secara halus hebatnya karya tersebut secara ekonomi juga telah terbukti positif
menurut saya hal tersebut relevan untuk menjadi referensi untuk masalah yang mbak icha alami.
trims
Kaka yang baik hati ada ga di organisasi atau perusahaan atau website yang menangani ide menjadi produk nyata kalau ada kasih dong alamatnya. ya kaka thanks
Kaka yang baik hati ada ga di organisasi atau perusahaan atau website yang menangani ide menjadi produk nyata di indonesia kalau ada kasih dong alamatnya. ya kaka thanks
Kadang kala yg kita jual baru berupa konsep. Kalau konsep diterima, maka kita baru membuatnya. Misalnya: bangunan, software, baju, dll.
Jadi pendekatannya memang berbagai macam.
Salam sukses.