Masalah Kerja, Antara Sekolah dan Tidak Sekolah
Wah mas kamu sudah belajar sampe jauh keluar masih bingung mikir kerja, bagaimana dengan sodara yang sekolah aja kaga’. menurut saya sih yang penting manfaat!!
Kalimat di atas adalah salah satu komentar dari Mas Maulana di salah satu tulisan saya, ”Wiraswasta atau Karyawan, Itu Hanya Masalah Selera”. Dan sejauh yang saya ketahui, kebingungan masalah kerja sebenarnya bukan masalah sekolah atau tidak sekolah.. pun bukan masalah sekolah dimana..
Tahun ajaran baru telah dimulai kembali beberapa waktu yang lalu. Dan seiring dengan itu, ada beberapa pertanyaan (rutin tahunan) yang datang kepada saya, baik itu secara langsung ataupun tidak langsung. Mulai dari mereka yang masih berusaha menyelesaikan studinya sampai kepada mereka yang baru akan menjejakkan kakinya ke dunia mahasiswa.
Bahkan ada pertanyaan (yang mungkin agak ekstrim), “Apa sih gunanya sekolah atau kuliah tinggi-tinggi?” Pertanyaan terakhir ini (terutama) datang dari mereka yang ingin (atau sudah) melangkahkan kakinya ke dunia entrepreneurship.
Saya mungkin bukan termasuk orang yang benar-benar menggunakan disiplin ilmu yang saya pelajari ketika saya menduduki bangku kuliah. Saya juga mungkin bukan termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki predikat cumlaude. Tapi walau begitu, bagi saya, kuliah itu penting. Kuliah bagi saya adalah proses pembelajaran, dan proses ini memperluas jangkauan pola pikir yang kita miliki.
Atas dasar hal diatas, maka jika ada kesempatan untuk berkuliah.. pergunakanlah dengan baik.. apapun bidang yang di pelajari. Status mahasiswa itu sangat berarti, apalagi jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Di dalam atau di luar negeri, itu sama saja. Apakah nanti bisa terlesesaikan dengan baik, molor atau malah tidak selesai.. itu urusan belakangan…
Kenapa? Karena menurut saya, (filosofi?) inti dari kuliah adalah di proses pembelajaran tadi. Proses inilah yang (menurut saya) tidak bisa dipukul rata antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang bisa cepat dan ada yang bisa lama. Modelnya pun berbeda-beda, tergantung dari karakteristik dari masing-masing orang. Belum lagi jika kita menghitung faktor lingkungan dan kondisi yang harus dihadapi oleh masing-masing individu.
Untuk itulah, saya menghargai setiap pilihan pekerjaan yang dijalankan oleh semua rekan saya, apapun itu. Baik sebagai karyawan, pengusaha, dosen dan sebagainya. Saya yakin, setiap pilihan pekerjaan yang diambil adalah berdasarkan pertimbangan tersendiri dan berdasarkan kondisi yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka.
Lalu, bagaimana dengan yang tidak sempat atau tidak punya kesempatan untuk kuliah?
Saya tahu, pendidikan memang mahal untuk saat ini. Diterimanya adik saya di salah satu PTN sudah cukup membuka mata saya. Tapi walau begitu, tidak usah berkecil hati. Insya Allah, banyak jalan. Saya yakin, perkembangan di lingkungan global saat ini memungkinkan banyak hal yang bisa dilakukan. Banyak pintu yang terbuka (dibandingkan dulu), asalkan kita mau berusaha dan belajar.
Sejauh yang saya ketahui, kemampuan adalah salah satu kata kunci untuk hal ini. Banyak sudah contoh untuk hal yang satu ini, menjadi entrepreneur misalnya. Sayangnya, bagi yang ingin memasuki dunia entrepreneur, masih banyak yang berkeluh di masalah dana tanpa mengetahui dengan pasti kemampuan yang mereka miliki. Dana adalah satu hal, tapi di luar itu masih banyak hal yang lain yang juga perlu dipikirkan.
Seperti lingkaran setan memang, itu jika kita mendiskusikannya lebih lanjut. Sering juga saya mengalami diskusi semacam hal seperti ini. Dan ujung-ujungnya, kita bermuara hanya pada masalah persepsi saja. Masing-masing melihat dari sisi yang berbeda tanpa mau melihat dari sisi yang lainnya. Analogi yang (hampir) sama mungkin adalah tentang “diskusi sesama orang buta tentang gajah“. Bagi Anda yang (mungkin) sudah pernah melihat gajah, Anda (mungkin) akan tertawa.
update 12.05.2008:
silahkan baca juga:
- Jangan Contoh Bill Gates
- Hidup Tanpa Ijazah















thats great!
kuliah mengasah daya nalar kita dalam memecahkan masalah..terbukti lewat tugas makalah, Kuis2,seminar,,dan skripsi.
dan akan lebih dahsyat jika kita Combine kemampuan akademis itu dgn pengalaman empiris kita di dunia usaha!
salam sukses!!
Iya, kuliah bisa di Formal + In Formal = Konsep Homeschool:-)
Intinya sama : bagaimana kita bisa belajar & mempraktekkan semua kemampuan yang kita miliki utk bertahan & mengembangkan hidup (mandiri).
Sukses utk Semua…:-)
Sejak dini, saya tanamkan kepada anak-anak saya yang masih SD bahwa di sekolah, fokus kamu tidak hanya belajar pelajaran akademik, melainkan juga belajar bergaul.
Kepada teman-teman mahasiswa saya bilang, kuliah itu arena pertama membangun networking, yang kelak akan mendukung karir anda (dalam bidang dan posisi apapun). BEruntunglah lulusan SMA yang bisa kuliah di Perguruan2 Tinggi, yang mahasiswa-mahasiswanya berpotensi menduduki peran penting dalam berbagai bidang kehidupan.
Jadi, menurut saya, masuk UI, ITB, UGM, Pelita Harapan, dan berbagai universitas terkemuka bukan sekadar simbol kepintaran, tapi juga peluang untuk masuk dalam komunitas para calon pelaku dunia bisnis, politik, dan birokrasi di negeri ini.