Episode Negeri Mimpi

Belajar dari Syekh Siti Jenar

Posted by Yainal on Mar 6, 2007 in Lessons Learned, The Journey | 78 Comments

Tak selamanya Islam dapat berkembang menjadi basis moral yang menuntun umatnya ke arah hidup yang lebih baik. Islam dan agama apapun, ada kalanya justru berkembang sebagai identitas sektarian, serta alat kekuasaan dan penaklukan atas otonomi dan kebebasan masyarakat. Tren seperti itu selalu terjadi, baik saat ini ataupun dahulu kala, salah satu contohnya adalah di masa Syekh Siti Jenar atau yang lebih kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Sejauh yang saya ketahui, hal-hal yang bersifat mistis sempat menjadi trend beberapa waktu terakhir ini. Hal ini terlihat dari adanya beberapa tayangan di televisi ataupun layar lebar yang mengangkat tema ini. Di sisi yang lain, saya menangkap ada pemahaman yang keliru selama ini tentang kaitan antara unsur yang mistis ataupun juga makrifat dalam agama dengan kehidupan nyata.

Ketika orang menceburkan diri ke dalam khazanah mistis, seolah-olah dia akan menjadi orang terasing atau diasingkan, hidup di awang-awang, dan memisahkan diri dari hidup yang ramai. Di tengah-tengah pemikiran dan perjalanan hidup ini, akhirnya saya teringat dengan tokoh yang sangat intens bergaul dengan manusia lain, sekaligus seorang mistikus dalam anggapan beberapa orang, Sunan Gunung Jati Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Kebetulan, kedua tokoh itu asli Indonesia, dari tanah Jawa, dan akrab dengan budaya lokal.

Jika melihat masa lalu, saya menyadari bahwa muslim Indonesia ada sedikit alergi mendengar nama Syekh Siti Jenar. Ketika saya mencoba berbicara dengan beberapa orang atau rekan mengenai beliau, sempat tertangkap beberapa kali beberapa statement awal bahwa dia adalah wali yang sesat, melawan arus, mbalelo, dan seterusnya.

Bagi saya pribadi, saya mencoba melihatnya secara terbuka. Saya dulu sempat membeli beberapa buku yang mengupas mengenai sejarah dan beberapa hal yang berkaitan dengan Syekh Siti Jenar. Dalam pikiran saya saat itu, kalau Siti Jenar dianggap atau memang sesat, kita mesti tahu di mana letak sesatnya. Mungkin saja dia justru orang yang berusaha membuka cakrawala kehidupan secara lebih luas. Hanya karena sudah ada cap sesat yang tergesa-gesa, orang tidak pernah mengenal pola atau alam pikirannya secara tepat.

Bagi saya, selama ini kita lebih banyak “mendengar” dari pada “tahu” tentang Siti Jenar. Kita mendengar cerita sana-sini, tapi sebenarnya tidak tahu. Banyak juga yang menulis buku tentang Siti Jenar selama ini, tapi umumnya yang ditulis hanya berupa kisah, hanya cerita-cerita. Sama halnya dengan Sunan Kalijaga, selama ini orang mengenal Sunan Kalijaga sangat intens bergumul dengan kebudayaan, tapi orang tidak pernah tahu reasoning-nya atau alasan mengapa dia intens bergulat dengan budaya.

Makna agama dalam refleksi hidup Siti Jenar tidak begitu terkait dengan soal-soal seperti ibadah murni. Misalnya, dia menerjemahkan makna salat sebagai “kewajiban orang muslim dalam konteks hubungannya dengan Tuhan.” Namun demikian, seseorang sudah bisa dianggap salat bila aktivitas hidupnya (seperti bertani atau apapun) selalu dilandasi oleh rasa ingat akan Tuhan.

Tapi eling itu sekadar kepercayaan. Yang diinginkan Siti Jenar, semua tindakan real kita antar sesama manusia, harus merupakan wujud dari refleksi keimanan kepada Tuhan. Siti Jenar juga beda dalam menerjemahkan makna zakat. Menurutnya, zakat tidak harus fokus pada pengeluaran 2,5 % dari harta yang kita punya. Ketika seseorang merasa punya harta dan menemukan orang yang patut dibantu, maka dia harus segera keluarkan sebagian hartanya. Itulah yang dia sebut zakat. Jadi, zakat baginya tidak bergantung pada waktu (setahun sekali atau haul) dan jumlah (volume yang mesti dikeluarkan sebagaimana ketentuan formal fikih).

Kalau kita giat menelaah pandangan-pandangan keagamaan Siti Jenar, kita akan menemukan bahwa agama bagi mereka merupakan basis moral kehidupan. Untuk itu, tingkah laku, perbuatan dan tindakan seseorang, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya, haruslah merupakan perwujudan dari penghayatan keagamaan. Sementara umumnya masyarakat selalu menganggap agama dalam bingkai tersendiri. Makanya, kadang kita melihat masjid penuh terisi, tapi korupsi tetap bersemi. Masjid penuh terisi, pencuri bisa lari di mana-mana. Kondisi seperti itulah yang tidak dikehendaki Siti Jenar di jamannya saat itu.

Saya memang bukan ahli agama karena saya memang tidak belajar agama secara khusus di pondok pesantren seperti lainnya. Namun dalam perjalanan hidup saya, saya melihat bahwa banyak sekali kalangan agamawan yang terbawa arus besar dan ada juga yang justru prihatin akan arus besar itu dalam pergerakan Islam saat ini. Dan saya pribadi, termasuk salah seorang yang prihatin akan arus besar itu. Makanya, dengan jernih saya selalu berusaha membedakan antara bagaimana mestinya beragama, dan bagaimana belajar untuk mendapat ilmu yang saya tuju sehingga saya tidak terbawa arus. Agak aneh memang.

Bagi saya, dalam hidup ini kita tidak pernah bisa lepas dari tren yang terjadi di dalam masyarakat. Saya ingat ketika saya pertama masuk UGM tahun 1994, trend pergerakan Islam saat itu sempat saya rasakan sendiri bagaimana kuatnya. Dalam pergaulan sehari-hari di kampus pun saya juga merasakan friksi-friksi adanya perbedaan pandangan. Konflik juga belum timbul secara langsung, sekalipun potensinya ada. Potensinya disebut ada, karena masing-masing orang selalu ingin mempertahankan kebenaran versinya sendiri. Padahal, kita mestinya bisa membedakan antara kebenaran di tingkat intelektual dan kebenaran di tingkat realitas. Jangan sampai kebenaran di tingkat intelektual mematikan kebenaran pada tingkat realitas. Sebagai contoh, orang yang berpandangan A benar, pada tingkat realitas mungkin belum tentu nyata. Tapi kebenaran intelektual itu kemudian dipaksakan untuk benar juga pada tingkat realitas. Akhirnya terjadilah kekerasan yang tidak kita inginkan.

Saat ini, hal yang sama juga masih saya saksikan dan alami. Saya menyaksikan agama yang dikampanyekan tidak sebagai basis moral kehidupan, tapi lebih bernuansa politis. Berdirinya beberapa partai yang berusaha membawa nama Islam itu menurut saya tidak bisa dilepaskan dari jangkauan-jangkauan politis dan kekuasaan. Maksudnya, berdirinya mereka sebetulnya lebih bertujuan politik ketimbang semata-mata untuk tujuan agama. Mungkin karena itulah mereka lebih mudah berfriksi dengan kelompok-kelompok lain.

Sejauh yang saya ketahui, Syekh Siti Jenar berusaha mengajarkan kita untuk lebih menekankan pola kehidupan keagamaan yang lebih bernuansa merdeka. Dia tidak ingin dikuasai orang lain dan terus menerus menyerukan agar orang lain juga tidak berambisi menguasai orang lain. Makanya dia berontak terhadap kekuasaan Demak di masanya, karena dia tidak mau mengikuti satu pakem tertentu, baik dalam beragama ataupun pola kekuasaan. Bagi Syekh Siti Jenar, agama merupakan jalan hidup, bukan alat kekuasaan dan penguasaan. Agama baginya menuntut orang untuk menjalani hidup yang benar dan bahagia. Kalau kita telaah lebih jauh, banyak sekali ajaran-ajaran Siti Jenar yang menyinggung soal hak dan kemandirian manusia.

Bahkan pandangannya dalam soal itu bisa dikatakan jauh melompat ke depan. Soal hak kemandirian ada dalam pelajaran Syekh Siti Jenar tentang pribadi. Ajarannya tentang pribadi, dalam ukuran zaman sekarang hampir sama dengan ajaran filsafat eksistensialis. Padahal, filsafat eksistensialis masa kini justru digunakan untuk wacana bantahan atas filsafat rasionalis zaman Kant, atau filsafat Kantian dan Cartesian.

Siti Jenar juga mengajarkan manusia untuk hidup secara nyata, tidak di dalam ilusi. Makanya Siti Jenar pernah melontarkan kritik yang lebih kurang berbunyi: “Jangan-jangan pikiran Anda hanyalah buah dari ilusi Anda pribadi, bukan betul-betul buah dari rasa ingat pada Tuhan!”

Comments

78 Responses to “Belajar dari Syekh Siti Jenar”
  1. Suharto Kasan says:

    Ass.wr.wb.
    Senang sekali membaca kajian SSJ.
    Tapi mumet rasanya otak ini memikirkannya.
    Tidak ada yang bisa aku komentari tentang ajaran SSJ ini karena belum pernah baca ajaran beliau.
    Tapi rasa bangga terhadap penulis komentar baik yang pro maupun yang kontra, krn masih dalam koridor etika, hati boleh panas kepala hrs tetap dingin.salam utk semuanya.
    Wass.wr.wb.

  2. Budi Setiawan says:

    untuk sodaraku yang mencari thoriqoh akmaliyah coba panjenengan ikut or cari tau Thoriqoh SHIDDIQIYYAH,JOMBANG PLOSO JAWA TIMUR.

  3. Budi Setiawan says:

    kalo memang anda2 ini pengen tau tentang syeh siti jenar..panggil saja beliau ajak ketemuan antar jiwa pasti anda2 gak perlu berpolemik tentang beliau..suwun.

  4. Suwito says:

    Ingsun kang sejatine urip yo siro sejatine urip ingsun allah yo siro alloh.sir eling sejatine urip.sir kui allah badan putih tanpo geteh.

  5. faisal says:

    wahai saudara2ku, byk yg blm tau rupanya kalau Syeckh Siti Jenar = Sunan Gunung Jati, byklah belajar, jgn hanya belajar pada sejarah semata tp belajar jg pada yang sejati, sejatinya hidup, maka kita akan mendapat kebenaran sejati pula.

  6. baset says:

    Salam!
    Saudara saudaraku,bagus sekali kita semua berdiskusi seperti ini.Tapi jangan kita membuat seolah olah menjalani hidup ini demikian sulit. Jalankan saja mulai dari yang paling mudah, seperti misalnya menyingkirkan duri atau pecahan kaca dari jalan. Atau memberi sedekah kepada sesama, ikut memperhatikan nasib anak-anak terlantar dan lain sebagainya. Allah menciptakan manusia agar bisa menjadi khalifah/panutan/suri tauladan. Seandainya kita semua bisa membuat hati ini merasakan susahnya orang lain yang sedang kesusahan, dan bisa merasa bahagia pada saat melihat orang lain bahagia, kita sama sekali tidak merasa berat untuk memberikan sebagian harta kita untuk sesama.Dan buatlah diri kita agar bisa bermanfaat untuk sesama, karena semua yang ada pada kita adalah milik-Nya. Kalau kita bisa menjalankan itu semua, saya kira itulah makrifat. Kita sama sekali tidak memiliki apa-apa, semua adalah milik-Nya, termasuk diri kita.
    Salam !

  7. Untu says:

    Saya setuju dgn tanggapan di atas [semuanya]. Yang pada intinya, pada masa ajaran itu muncul, manusia belum sampai pada kemampuan untuk menerima ajaran tersebut. Tetapi pada masa sekarang dengan semakin berkembangnya jaman dan semakin banyaknya manusia yg kritis serta semakin luasnya tingkat kesadaran maka ajaran-ajaran itu dapat diterima sesuai dgn tingkat kesadaran masing-masing individu.

  8. Choli M says:

    Terlalu muda dan dangkal pengetahuan kita terhadap Islam maka perbanyak belajar dan belajar dari manapun termasuk kepada orang Cina dll, agama lain dll, agar kita lebih dewasa yang tidak mudah mencemooh kepada orang lain, agama lain bahkan mencemooh agama sendiri karena beda syariat, BELAJAR DAN BELAJARLAH, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua termasuk kepada yang beragama berbeda dengan kita, amin3

  9. heriyadi says:

    very very thanks for siti jenar. i hope many people like you in the world

  10. akmaliya says:

    Alhamdulillah, allah akbar 3x sedikit demi sedikit tabir Siti Jenar mulai terbuka, kebenaran hakiki adalah milik Allah, semoga kita selaku hamba Allah mampu menjadi hamba yang ta’at. bukan pada lahir saja akan tetapi sampai Qolbu kita.
    ( ingsun syukur ing dzatingsung nadyan reget lan kebak doso, sun sumadyo ngayahi neroko…..nerimo marang kodrating kang kuoso… sun syukur atas wujud dzat ingsun tan ora wujud ).

  11. ari santoso says:

    bagaimana cara belajar ma’rifat akmaliya dan tempatnya dimana?

  12. ada sebuah buku yang saya baca bahwa sunan kalijaga itu adalah syeh siti jenar
    dan syeh siti jenar itu adalah sunan kali jaga
    dan ada juga buku yang mengatakan bahwa wli songo itu tidak ada yang ada cuman dongeng
    mumet dchhhhhhhhhhh gue????????????/
    mana yang bener ciiiiiiiiiiihhhhhhhhh

  13. kuncoro says:

    Saya rasa betul tentang tulisan Anda mengenai SSJ. Jika semua orang berpikiran seperti Anda, Islam akan sangat maju dan humanis.

  14. Suka Ketenangan says:

    Hmm…
    Cara berpikir, sikap, cara bicara Syeh Siti Jenar kok mirip dg nabi Isa (Yesus). Syehk Siti Jenar gak disukai oleh pemuka agama (para wali), sedangkan Yesus gak disukai oleh pemuka agama (orang farisi).

  15. Metalizer says:

    Kagak usah bngung lah kagak usah brdbat yg akhrna jd ajang vonis memvonis…
    Smua pilihan trgntung pd dri qt sndri n yg pst ad konskwensina…pst ad buah yg akn qt ptik..Trgntung ap yg qt tanam…
    Loe pilih A loe pilih B tu urusan loe krn ntr yg dpt buah na jg loe sndri…
    Mka dr itu sblum mmilih pikir dg matang dg jelas dg akal sehat…
    Lha wong sudah trang bndrang sgt jelas ap2 yg musti loe ikutin yg musti loe jdkan panutan yg musti loe jdkan pgangan…
    Sapa Nabi loe??
    Apa kitab suci loe??
    Lbh paham mana Rosulullah ma Jenar ttg Islam??
    Lbh mulia mana d hadapan ALLAH,, Rosullah pa Jenar??
    Siapakah yg lbh utama jd panutan Rosulullah ap Jenar??
    Jwbna trserah loe tu jg pilihan loe yg ptik buah na ntr jg loe…

    Make it simple man,, actually its so easy to think n to choose…

  16. mang agus says:

    Assalaamu ‘alaikum kang terimakasih atas artikel yg mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagi kita untuk menapaki iman yakin fana dan wujud. bagi peminat tarekat atau suluk saya punya buku berjudul MENJADI WALI ALLAH yaitu ttg praktek zikir dgn 7 lathifah dan dua puluh muraqabah serta 15 maqam kewalian yg tentu saja melambangkan martabat tujuh smskan nama dan alamat lengkap ke 0856 7368 179 he he he gratis tau wassalaamu ‘alaikum

  17. MUGIA HAMBA ALLAH says:

    ALHAMDULILAH,saya setuju denngan artikel di atas.karena saya tidak bisa menyatakan atau memberi label sesat kepada orang lain sebelum mengkajinya.logikanya ga mungkin kuta menyebutkan sesuatu ada tanpa ada hukum yg menyebabkan ada.jadi disini kita harus kritis,tapi waktu kan menjawab mana yg baik dan benar.ALLAH menyuruh kita untuk Iqra `MEMBACA,,Dalam arti mengkaji sesuatu yang belum tau menjadi tau dngan wujud nilai ketuhanan yang nyata yaitu dengan kasih sayang.jadi jangan dengan emosi apalagi berburuk sangka kepada oranng,yg blum tentu orang yang memvonis seseorg itu mulia d hadapan allah.dan allah paling tidak suka dengan orang yg pnuh dngan iri,dengki,takabur,sombong.pikirlah dengan akal sehat,hidup adlah nyata bukan ilusi.

  18. suprih adi says:

    secara pribadi saya setuju ucapan anda, sayapun mencoba merenung dan mencari jawab atas misteri dunia ini, makasih sudah menambah” masukan positif”

  19. Sidik Paningal says:

    wacana diatas tdk perlu diperdebatkan dan diributkan,…..benar utk orang lain mgkn belum tentu benar utk diri sdri….benar utk diri sendiri mgkn belum tentu benar utk orang lain. Dalam cerita tersebut belum ada seorangpun yang mengetahui secara hakiki kebenarannya. Masing- masing memperebutkan kebenaran utk dirinya sendiri. Segala hal yg terjadi di dunia ini sudah menjadi ketentuan sesuai kehendakNYA…..

  20. wah saya sangat senang sekali ……..dan ajaran syeh siti jenar itulah ajaran dari sebuah ajaran………..itulah jalan menuju kebenaran hakiki……….tidak hanya dariucapan…….namun perbuatan sudah sama dengan ucapannya………….mantafffff… saya setuju sekali dengan ajaran syeh siti jenar……. bisa saya katakan kalau ajaran syeh siti jenar adalah persis dengan HUKUM KETERTARIKAN……kalau di video film nya THE SECRET…….

    hubungan manusia dengan SEMESTA alam…..DAN SELALU BERFIKIR POSITIF,……MANTAF SEKALI MAS ……….

    SALAM………

  21. MAAF …….TERNYATA CEWEK……….MAAF MBAK…..
    SALAM…….

  22. suharto says:

    sama-sama beragama inslam, gaya dan maksud Ki.Sitijenar sama dan sebagun dengan ki Maria Teguh. Tidak harus terikat dalam mempertahankan moran dan humanis

  23. nandro says:

    salam orang gila… ehm, semua itu sama saja..kamu, aku, dia itu hasil dari keringat yang di atas.. pingin manunggal?.. ya kenali dirimu lebih dalam lagi to.. darimana asal usulmu dan terbuat dari bahan apa kamu itu?… lihat jasatmu yang kotor… bersihkan dulu dan samakan dengan yang didalam maka Dia akan menyatu dan merasakan apa yang kamu rasakan..”MANUNGGAL” antara kawula dan gusti.
    pucak mati adalah hidup….istilah kerennya “SEKARATUL MAUT” dan rrrasanya :
    endaaaang banget…

  24. Oentoeng says:

    Ketika syeh siti jenar sedang berdiskusi dengan ki ageng kebokenongo ,syeh ssj bertanya”dimanakah pintu kematian itu?”ki ageng terdiam.Lama. Tidak menjawab malah balik bertanya”dimanakah ALLAH?” syeh siti terdiam membisu.Lalu keduanya saling membagi ilmu. Kiageng mendapatkan pengetahuan hakekatnya ALLAH dari syeh siti dan syeh siti mendapatkan hakekatnya pintu kematian dari kiageng. Lalu pernahkah kita pikirkan dimanakah “pintu kematian itu?” bukankah semua orang akan melewati pintu itu?

  25. jai says:

    apapun yang telah trjadi jangan d buat psing yg pntng qt sadar sgala ssuatu nggk akan trjdi tnpa khendak dzat wajibul wujud, jd yg anda2 alami semua itu benar adanya krna smua itu atas khendak NYA, baik itu benar,salah, kafir, taat kl mnurut sya itu benar adany karena itu hny dtang dr ALLAH sMATA to, jd sadarilah smua itu atau imani smua itu, krena setan pun nggk bsa ngpa2in kcuali allah mnghdakiny. So jdlah ssadar mngkin siapa sbnarny qt ini. Smga teks ini bs mmbantu. Maha benar allah atas khndakny.

  26. jai says:

    maha benar ALLAH atas sgla khendakny, mari qt imani smua ini. bhw smua yg trjdi hny klakuan allah saja tiada yg lain. Karena tiada yg pnya khndak kculi dia sja.

  27. Ajiemaulana says:

    Syekh siti jenar sosok agung yang mengajar kpd rakyat jelata tentang ilmu luhur tanpa memandang kasta…syekh siti jenar the best of the best..individu akan tahu siapa syekh st jenar dan ajaran beliau kalo individu itu dah menyelesaikan maqomat2 dalam persulukan..

  28. winarno sakti says:

    Agam itu bukan hanya ritual tapi laku. Laku-nya agama itu eling. Kita hrs ingat sbenrya badan kasar kita adalah bangkai atau mayat, bisakah mayat bekerja tanpa AL HAYAT? Ketika kita sholat siapa yg nyembah dan siapa yang disembah? Kalau dalam sholat kita masih membayangkan Tuhan ada di atas, bukankaj itu kurang tepat kalau tidak boleh dikatakan syirik?

Leave a Reply


Previous Article : Belajar dari Wali Songo

Next Article :Obrolan Warung Kopi