Belajar dari Syekh Siti Jenar

Tak selamanya Islam dapat berkembang menjadi basis moral yang menuntun umatnya ke arah hidup yang lebih baik. Islam dan agama apapun, ada kalanya justru berkembang sebagai identitas sektarian, serta alat kekuasaan dan penaklukan atas otonomi dan kebebasan masyarakat. Tren seperti itu selalu terjadi, baik saat ini ataupun dahulu kala, salah satu contohnya adalah di masa Syekh Siti Jenar atau yang lebih kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Sejauh yang saya ketahui, hal-hal yang bersifat mistis sempat menjadi trend beberapa waktu terakhir ini. Hal ini terlihat dari adanya beberapa tayangan di televisi ataupun layar lebar yang mengangkat tema ini. Di sisi yang lain, saya menangkap ada pemahaman yang keliru selama ini tentang kaitan antara unsur yang mistis ataupun juga makrifat dalam agama dengan kehidupan nyata.

Ketika orang menceburkan diri ke dalam khazanah mistis, seolah-olah dia akan menjadi orang terasing atau diasingkan, hidup di awang-awang, dan memisahkan diri dari hidup yang ramai. Di tengah-tengah pemikiran dan perjalanan hidup ini, akhirnya saya teringat dengan tokoh yang sangat intens bergaul dengan manusia lain, sekaligus seorang mistikus dalam anggapan beberapa orang, Sunan Gunung Jati Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Kebetulan, kedua tokoh itu asli Indonesia, dari tanah Jawa, dan akrab dengan budaya lokal.

Jika melihat masa lalu, saya menyadari bahwa muslim Indonesia ada sedikit alergi mendengar nama Syekh Siti Jenar. Ketika saya mencoba berbicara dengan beberapa orang atau rekan mengenai beliau, sempat tertangkap beberapa kali beberapa statement awal bahwa dia adalah wali yang sesat, melawan arus, mbalelo, dan seterusnya.

Bagi saya pribadi, saya mencoba melihatnya secara terbuka. Saya dulu sempat membeli beberapa buku yang mengupas mengenai sejarah dan beberapa hal yang berkaitan dengan Syekh Siti Jenar. Dalam pikiran saya saat itu, kalau Siti Jenar dianggap atau memang sesat, kita mesti tahu di mana letak sesatnya. Mungkin saja dia justru orang yang berusaha membuka cakrawala kehidupan secara lebih luas. Hanya karena sudah ada cap sesat yang tergesa-gesa, orang tidak pernah mengenal pola atau alam pikirannya secara tepat.

Bagi saya, selama ini kita lebih banyak “mendengar” dari pada “tahu” tentang Siti Jenar. Kita mendengar cerita sana-sini, tapi sebenarnya tidak tahu. Banyak juga yang menulis buku tentang Siti Jenar selama ini, tapi umumnya yang ditulis hanya berupa kisah, hanya cerita-cerita. Sama halnya dengan Sunan Kalijaga, selama ini orang mengenal Sunan Kalijaga sangat intens bergumul dengan kebudayaan, tapi orang tidak pernah tahu reasoning-nya atau alasan mengapa dia intens bergulat dengan budaya.

Makna agama dalam refleksi hidup Siti Jenar tidak begitu terkait dengan soal-soal seperti ibadah murni. Misalnya, dia menerjemahkan makna salat sebagai “kewajiban orang muslim dalam konteks hubungannya dengan Tuhan.” Namun demikian, seseorang sudah bisa dianggap salat bila aktivitas hidupnya (seperti bertani atau apapun) selalu dilandasi oleh rasa ingat akan Tuhan.

Tapi eling itu sekadar kepercayaan. Yang diinginkan Siti Jenar, semua tindakan real kita antar sesama manusia, harus merupakan wujud dari refleksi keimanan kepada Tuhan. Siti Jenar juga beda dalam menerjemahkan makna zakat. Menurutnya, zakat tidak harus fokus pada pengeluaran 2,5 % dari harta yang kita punya. Ketika seseorang merasa punya harta dan menemukan orang yang patut dibantu, maka dia harus segera keluarkan sebagian hartanya. Itulah yang dia sebut zakat. Jadi, zakat baginya tidak bergantung pada waktu (setahun sekali atau haul) dan jumlah (volume yang mesti dikeluarkan sebagaimana ketentuan formal fikih).

Kalau kita giat menelaah pandangan-pandangan keagamaan Siti Jenar, kita akan menemukan bahwa agama bagi mereka merupakan basis moral kehidupan. Untuk itu, tingkah laku, perbuatan dan tindakan seseorang, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya, haruslah merupakan perwujudan dari penghayatan keagamaan. Sementara umumnya masyarakat selalu menganggap agama dalam bingkai tersendiri. Makanya, kadang kita melihat masjid penuh terisi, tapi korupsi tetap bersemi. Masjid penuh terisi, pencuri bisa lari di mana-mana. Kondisi seperti itulah yang tidak dikehendaki Siti Jenar di jamannya saat itu.

Saya memang bukan ahli agama karena saya memang tidak belajar agama secara khusus di pondok pesantren seperti lainnya. Namun dalam perjalanan hidup saya, saya melihat bahwa banyak sekali kalangan agamawan yang terbawa arus besar dan ada juga yang justru prihatin akan arus besar itu dalam pergerakan Islam saat ini. Dan saya pribadi, termasuk salah seorang yang prihatin akan arus besar itu. Makanya, dengan jernih saya selalu berusaha membedakan antara bagaimana mestinya beragama, dan bagaimana belajar untuk mendapat ilmu yang saya tuju sehingga saya tidak terbawa arus. Agak aneh memang.

Bagi saya, dalam hidup ini kita tidak pernah bisa lepas dari tren yang terjadi di dalam masyarakat. Saya ingat ketika saya pertama masuk UGM tahun 1994, trend pergerakan Islam saat itu sempat saya rasakan sendiri bagaimana kuatnya. Dalam pergaulan sehari-hari di kampus pun saya juga merasakan friksi-friksi adanya perbedaan pandangan. Konflik juga belum timbul secara langsung, sekalipun potensinya ada. Potensinya disebut ada, karena masing-masing orang selalu ingin mempertahankan kebenaran versinya sendiri. Padahal, kita mestinya bisa membedakan antara kebenaran di tingkat intelektual dan kebenaran di tingkat realitas. Jangan sampai kebenaran di tingkat intelektual mematikan kebenaran pada tingkat realitas. Sebagai contoh, orang yang berpandangan A benar, pada tingkat realitas mungkin belum tentu nyata. Tapi kebenaran intelektual itu kemudian dipaksakan untuk benar juga pada tingkat realitas. Akhirnya terjadilah kekerasan yang tidak kita inginkan.

Saat ini, hal yang sama juga masih saya saksikan dan alami. Saya menyaksikan agama yang dikampanyekan tidak sebagai basis moral kehidupan, tapi lebih bernuansa politis. Berdirinya beberapa partai yang berusaha membawa nama Islam itu menurut saya tidak bisa dilepaskan dari jangkauan-jangkauan politis dan kekuasaan. Maksudnya, berdirinya mereka sebetulnya lebih bertujuan politik ketimbang semata-mata untuk tujuan agama. Mungkin karena itulah mereka lebih mudah berfriksi dengan kelompok-kelompok lain.

Sejauh yang saya ketahui, Syekh Siti Jenar berusaha mengajarkan kita untuk lebih menekankan pola kehidupan keagamaan yang lebih bernuansa merdeka. Dia tidak ingin dikuasai orang lain dan terus menerus menyerukan agar orang lain juga tidak berambisi menguasai orang lain. Makanya dia berontak terhadap kekuasaan Demak di masanya, karena dia tidak mau mengikuti satu pakem tertentu, baik dalam beragama ataupun pola kekuasaan. Bagi Syekh Siti Jenar, agama merupakan jalan hidup, bukan alat kekuasaan dan penguasaan. Agama baginya menuntut orang untuk menjalani hidup yang benar dan bahagia. Kalau kita telaah lebih jauh, banyak sekali ajaran-ajaran Siti Jenar yang menyinggung soal hak dan kemandirian manusia.

Bahkan pandangannya dalam soal itu bisa dikatakan jauh melompat ke depan. Soal hak kemandirian ada dalam pelajaran Syekh Siti Jenar tentang pribadi. Ajarannya tentang pribadi, dalam ukuran zaman sekarang hampir sama dengan ajaran filsafat eksistensialis. Padahal, filsafat eksistensialis masa kini justru digunakan untuk wacana bantahan atas filsafat rasionalis zaman Kant, atau filsafat Kantian dan Cartesian.

Siti Jenar juga mengajarkan manusia untuk hidup secara nyata, tidak di dalam ilusi. Makanya Siti Jenar pernah melontarkan kritik yang lebih kurang berbunyi: “Jangan-jangan pikiran Anda hanyalah buah dari ilusi Anda pribadi, bukan betul-betul buah dari rasa ingat pada Tuhan!”

61 Comment(s)

  1. Alhamdulillah! Saya saya bersyukur dapat membaca tulisan ini. Dimohon kalau ada kajian tentang Ilmu Agama dari Siti Jenar ini, kami diundang. Terima kasih.

    Jake | Aug 15, 2007 | Reply

  2. kebanyakan semua orang belum paham betul tentangnya

    heru s | Oct 24, 2007 | Reply

  3. apa yang saudara tulis memang betul dari sudut pandang saudara, namun dari penelitian ikhwan, sebenarnya Syekh Siti Jenar adalah seorang ahli ibadah yang tekun dan penuh disiplin namun lebih menekankan pola kemerdekaan dalam beribadah. fatalnya hasil dari “makrifat” perenungannya disampaikan langsung kepada orang yang awam dalam islam. istilahnya ajaran seorang profesor disampaikan kepada anak TK atau baru masuk SD dan akibatnya banyak ulama kurang setuju terhadap tindakannya, dan apabila diteruskan dakwahnya akan merusak tatanan masyarakat yang sudah mulai terbentuk. Makanya terhadapnya sudah sepatutnya dilakukan hukum qisas. pada jaman sekarang banyak bermunculan orang baru tahu sedikit tentang kasyaf (terbukanya hijab) sudah membentuk kelompok-kelompok sendiri dan menamakan komunitasnya dengan nama-nama yang indah, seperti Aliran “Taman Surga”, Ahmadiyah, Qur’an Suci, Al-Qiyadah dsb. yang kesemuanya itu berusaha mengungkap hasil dari proses riyadhah tirakat-perenungannya (kontemplasinya)dan belum apa-apa sudah mengajak orang untuk ikut dalam rombongannya. alangkah indahnya kalau banyak orang yang tahu tentang sesuatu yang menjadi rahasia antara dia dan Allah maka sebaiknya disembunyikan rapat-rapat namun kalau dia ungkapkan jua rahasia itu maka orang tersebut mendapat julukan Al-kadzib yaitu si-Tukang Tipu. kasihan deh orang yang jadi jama’ahnya. dimana-mana dimusuhi masyarakat dan kalau mati jadi keraknya neraka. naudzu billahi min dzalik!

    YONANWAR | Nov 14, 2007 | Reply

  4. Sy sgt tertarik dengan ulasan atau apa saja yg berhubungan dgn Syekh Siti Jenar. Karena sy menganut kebebasan berpikir yg benar2 bebas(bukan tindakan1!), maka sy menganggap Syekh Siti Jenar tdk sesat. Apakah bisa kita sbgai manusia menilai sesat orang lain mengenai apa yg diyakini nya ? Apakah keyakinan kita sdh paling benar hingga keyakinan yg lain salah/sesat? Sy sgt berharap ada banyak lagi pembahasan mengenai Syekh Siti Jenar, agar wawasan kita benar2 terbuka.

    FERRY | Nov 14, 2007 | Reply

  5. tolong dong saya jg di beritahu klo ada kajian yg membahas tentang ajaran sekh siti jenar,
    trus saya mohon informasi tentang thariqat akmaliya yg sangat tersembunyi iyu, mungkin ada dimana jamaah mereka.
    terimakasih

    fakhrul | Dec 29, 2007 | Reply

  6. Di atas langit ada langit. Ilmu Allah tiada terhingga. Kebenaran sejati milikNya. Jadi tiada pantas seorang hamba menghakimi hamba lainnya sesat padahal hamba itu juga nyata2 sama2 menyembahNya. Nabi Muhamamad SAW apakah pernah menganggap sesat tokoh2 agama yg lebih tua macam Hindu dan Budha? Saya rasa tidak… Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju Allah SWT. Hanya Allah yg Maha Tahu dan diri sendiri yg menyakini kebenaran…

    kampret | Jan 3, 2008 | Reply

  7. Dari bahasa kitab suci yg dikenal dlm Islam saja jelas berbeda-beda, ada bahasa Ibrani, Suryani dan Arab. Jelas bahwa Allah memahami bahasa semua hambaNya. Termasuk semua syariat yg ditekuni hambanya… jadi bagi yg mudah memberikan stempel SESAT atas nama DOGMA (Hadits atau Alquran) sebaiknya instropeksi diri… belajar lebih dalam lagi… apakah benar seperti itu atau malah dia sendiri sesat dalam memahami ajarannya…

    Eling Lan Waspodo | Jan 3, 2008 | Reply

  8. Tuhan itu meliputi segala sesuatu (dlm Alquran ada ayatnya). Tuhan sangat dekat dg hambaNya bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri. Artinya setiap individu punya kesempatan berinteraksi dg Tuhannya. Tuhan yg sama dari semua agama yg ada dan dari semua ajaran yg ada. Persoalan namanya beda ya terserah Tuhan. Karena Tuhan bisa bahasa apa saja bahkan Dia atau isi hati semua makhlukNya. Mengenai tata cara (baca: Syariat) ya terserah Tuhan yg menghakimi mau diterima atau ditolak. Bukan urusan manusia utk menentukan sesat atau tidak sesat.

    Universal | Jan 3, 2008 | Reply

  9. Melihat sesuatu dari tataran Rasional dengan syariatnya memang jauh berbeda dengan tataran “lawan or pasangannya” yaitu Nur, Ruh, gaib atau dan sebagainya…kalau menurut saya Siti Jenar dia sudah berada & menggunakan tataran non-Syariat alias tataran Ruh…Syariat ataupun Ruh itu dua-dunya benar karena punya tujuan yang sama, yaitu menuju Tuhan…cuman “ilmu”-nya yang satu (rasional) merayap dari bawah ke atas (Tuhan)…& Ilmu yang satunya lagi= “ruh” akar teorinya itu berasal dari “atas” ke bawah…istilahnyamah yang satu “top down yang satunya lagi bottom up” so no wonder kalau ada perdebatan siti Jenar vs Wali songo..karena yang walisongo bertugas melindungi “kita-kita” manusia rasional biasa yang butuh “tangga” pemahaman untuk pergi ke “atas”…padahal menurut saya dalam hatinya para Wali songo yang juga mampu memahami “bahasa Ruh”, menyetujui apa yang dikatakan oleh Siti jenar…tapi kan kacau kalau tatanan kehidupan sosial-rasional or “keduniawian” menggunakan tataran ruh..bisa-bisa nggak akan ada tuh yang namanya internet seperti sekarang…karena kalau pada tataran Ruh..nggak penting banget gitu loh :-) …hehe this is just a thought..cheers

    Nagasakti | Jan 5, 2008 | Reply

  10. …. satu contohnya adalah di masa Syekh Siti Jenar atau yang lebih kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati….

    Syekh Siti Jenar = Sunan Gunung Jati???? apa nggak salah???

    Sunan Gunung Jati itu bukannya Syarif Hidayatullah?

    nama lain Syekh Siti Jenar bukannya Syekh Lemah Abang?

    thamid | Feb 12, 2008 | Reply

  11. Syekh Siti Jenar?. Syekh Siti Jenar yang banyak di ceritakan di buku hanyalah ceritanya saja, bahkan menceritakan bahwa ajaran yang sesat. Perlu di ketahui di Al-Qur’an di bahas ada 4 kalimat tentang Allah yaitu : La Illa Ha IlaAllah, Lailla Ha illahuwa, La illa Ha Illa anta,La Illa Ha Illa ana. Syekh Siti Jenar disini ingin menjelaskan tentang La Illa Ha Illa ana. Bnyak yang bilang ajarannya sesat karena orang tersebut sudah di Hijab dengan Ilmunya sendiri, tidak meluas wawasan dan pola pikirnya dan ini jg akibat feodalisme penekanan dari jaman Belanda. Syekh Siti Jenar atau Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) kesamaannya pada ajaranya yng estafet dari Nabi Muhammad SAW. Beliau mengajarkan 4 Tarekat yang turun dari Rosul ke pada 4 sahabatnya dan di satukan menjadi wujudullah yaitu :Syatori,Syatori Muhamaddiyah,Naqshabandiyah,Qadariyah dan satu dr keempat tarekat itu adalah Akmaliyah/Kamaliyah(ajaran Rossul)untuk menjadi Insan Kamil. disini lah tugas wali untuk menjadikan dan menyebarkan ajaran agar setiap orng menjadi Insan Kamil atau Manusia yang sesungguhnya. Jangan terlalu atau menjadikan patokan dari hasil sejarah atau tulisan seorang sufi karena itu adalah hasil dari seorang yang sudah makrifat. Tanpa kita mencapai Makrifat maka akan menjadi kebingungan, jadi harus lah kita melewati dari awal untuk mencapai Islam. “Awaludin Makrifatullah : Awalnya beragama adalah mengenal Allah “. Inilah yang menjadi pandangan tentang ajaran yang di sebarkan Syekh Siti Jenar atau Wali lainnya. Pendapat dari sejarah dan tidak dibuktikan dan diteliti untuk dirinya sendiri akan membuat kronologis yang abstrak alias samar, kunci dari segalanya adalah Al-Qur’an Haqiqi, yaitu Membuka siapa sebenrnya Manusia. Karena “Manusia adalah Rahasia Allah, dan Allah Rahasia Manusia”.dan jadikan Al_Qur’an Madjaji menjadi petunjuk yang sah. Sebaik – baiknya membaca pedoman dan seruan dari Al-Qur’an adalah di hayati untuk dirinya sendiri. InsyaAllah tidak akan ada tudingan atau pun keributan.

    Kriswo | May 26, 2008 | Reply

  12. Salah dari hulunya Mas. Sunan Gunung Jati itu Syarif Hidayatullah turunan Mesir – Sunda. Kalau Syekh Siti Jenar itu Syekh Lemah Abang orang Jawa. Good work menulis tapi jangan lupa referensi sejarahnya buka-buka lagi deh.

    Jalak Pakwan | Jul 18, 2008 | Reply

  13. bolehkah aku minta refrensi buku2 tentang ke-sufi-an Syekh Siti Jenar…? kalo boleh, tolong n please kasih tau aku… karna aku baru belajar n tertarik tentang ‘Syekh’ yang satu ini… tq b4.

    dhimas | Jul 29, 2008 | Reply

  14. Kenali dulu dirimu / dirimu sendiri aja belum kenal…….baru kau kenal siapa Tuhanmu…. dan setelah itu tidak ada lagi yang dibicarakan…karena yang ada hanya Tuhan (Allah Jalla Jalla Luh

    Romy | Aug 18, 2008 | Reply

  15. Alhamdulillah, allah akbar 3x sedikit demi sedikit tabir Siti Jenar mulai terbuka, kebenaran hakiki adalah milik Allah, semoga kita selaku hamba Allah mampu menjadi hamba yang ta’at. bukan pada lahir saja akan tetapi sampai Qolbu kita. Amin

    solekan | Sep 5, 2008 | Reply

  16. Benarkah dia dipancung oleh para wali? Trus di mana jasadx di kubur?

    tutu78 | Nov 7, 2008 | Reply

  17. Tentang beliau saya tdk mengerti pasti krn saya lahir di abad 20 ga tau klo saudara2 sekalian mungkin ada yg lahir di jaman beliau dan berkicau ini itu yang saya pahami

    Kembalinya ilah pada diri kita ke asalnya dilihat dalam bingkai islam rukun islam itu benar namun dalam bingkai ilmu HAKIKAT mungkin agak lain :D

    Ilmu Ikhlas, sabar, Poso mepes rogo :D
    Insya Alloh membukakan gelaran babakan jobo

    Ashwin | Dec 20, 2008 | Reply

  18. AJARAN siti jenar itu sulit di pahami orang awam hanya seorang waliuloh yang ngerti

    feri | Jan 17, 2009 | Reply

  19. asalkan berpegang teguh n sunan, insya ALLAH tdk tersesat.

    eka | Jan 21, 2009 | Reply

  20. ajaran syeh siti jenar bukan ajaran sesat bagi orang-orang yang mengerti. kesalahan syeh siti jenar hanya karena menyampaikan kepada orang-orang yang belum mengerti. sebenarnya guru dari syeh siti jenar sama dengan guru dari sunan kali jaga. sampai saat ini pun ajaran syeh siti jenar yang terkenal dengan wihdatul wujud masih ada dan masih dijalankan oleh pengikutnya secara diam-diam.

    ipam | Jan 21, 2009 | Reply

  21. sy br liat blog ini,telat ci.sy setuju dgn syekh siti jenar.sy tau dr ortu sy yaitu bpk sy,dia mengikuti jejak syekh siti jenar.pd zaman wali,sbnrnya para wali yg lain hny salah paham trhdp apa yg dikatakan syekh siti jenar dan jadilah syekh siti jenar di vonis sesat.slama sy mengikuti yg di ajarkan syekh siti jenar,sy mrasa tenang,damai dan tdk dpt di ungkapkn dgn kata2 krn stp nafas kita selalu ingat pada-NYA.

    ning | Feb 8, 2009 | Reply

  22. ajaran syeh siti jenar adalah penyatuan NUR ALLAH dengan dirinnya dengan ritual ibadah satu titik pengembangan keyakinan kepada Rab Nya,(itsa arada sai a” an yakula lahu kun fayaakun:apabilah dia menghendaki sesuatu maka jadilah),maka penyatuan nur itu ALLAH memperlihatkan kebesarannya diluar jangkauan nalar manusia.Saya tidak sependaat pada syeh sitti jenar karna:dia tidak meykini dirinya HAMBA secara hukum duniawi(manusia biasa)

    hamka as'ad | Feb 28, 2009 | Reply

  23. Saat ini saya sedang tertarik dengan ajaran Syekh Siti Jenar,saya juga banyak membaca buku tantang Syekh, seperti karya Ahmad Chodjim,K.H. Muhammad Solikhin,dimana saya bisa berguru tentang ajaran Syekh Siti Jenar ? Thanks Bro….

    iwan setiawan | Mar 14, 2009 | Reply

  24. berguru yang paling utama tentu pada diri sendiri, karena diri ini lebih tahu tentang dirinya sendiri, siapakah diri sebelum muncul di dunia ini, bagaimanakah awal diri, siapakah diri setelah pergi dari dunia ini, bagaimanakah akhir diri, apakah ada awal, apakah ada akhir, bagaimana kalau cuma hinggap saja dalam materi untuk sesaat, lepaskan materi yang mengungkungi diri, apakah yang kekal itu, siapakah namanya, mengapa kita lebih cenderung suka untuk berkumpul, dan meski diri ini sendiri merenung seolah tetap berharap ditemani, dan memang ditemani, ditemani siapa, siapa lagi kalau bukan yang ada di diri, atau bagian dari diri, maka belajar sendiri itu yang lebih baik, menurut apa yang diri ini ikhlaskan adanya :)

    yang senyum | Mar 20, 2009 | Reply

  25. Aslmkm wr wb
    Mungkin apa yg SSJ katakn waktu itu atas perasaan ZAUK atau sering disebut FANA UL FANA.
    Tauhid SSJ yg mantap & terlepas dr 4 hukum jalan dalam diri.Ada rahasia diri di dalam diri dan terdiri berdiri yang terperi.Tauhid SSJ mghilangkn bayangan didalam bayangan tampak jelas tanpa hijab.4 jalur dari diri 4 rahasia dalam diri 4 saudara dalam kandungan 4 jalan anasir pada 4 jalan:syariat,tarekat,hakikat & Makrifat.Akhirnya 4 jalan ini akan tertinggal manunggal pd yg tunggal@manunggal kawula gusti.
    Allah Hu,rahasia segala rahasia.

    Amin

    m_azmishah@yahoo.com.sg

    zack | Mar 28, 2009 | Reply

  26. ngikut dikit comnt ya
    gni kang sebenarnya masalah siti jenar itu perlu pemahaman lbh lnjut gtu aja sh

    hamba dloif | Mar 28, 2009 | Reply

  27. o ya numpang brita jg syekh siti jenar bukan sunan gunung jati, itu jelas bila kita baca dr sejarah yg bertolak belakang antara sunan gunung jati dgn ssj

    hamba dloif | Mar 28, 2009 | Reply

  28. Ass. Wr. Wb.
    Alhamdulillah masih banyak orang-orang kritis seperti anda, namun saya hanya ingin menambahkan bahwa syekh siti jenar dan 9 wali adalah pewaris para nabi, yang tentunya ada ilmu yang mereka pegang sebagai kendaraan untuk bersatu dengan Allah (makripat/manunggaling kawula gusti). untuk itu setiap orang yang mendapat hidayah-Nya akan diberikan ilmu/kendaraan tersebut (orang-orang yang dikehendaki oleh Allah). Dalam masa pencarian seseorang tidak dapat belajar dari diri sendiri, ia harus dibimbing oleh seorang mursyid, karena tanpa bimbingan mursyid tentunya akan disesatkan oleh diri sendiri. yang nantinya akan timbul orang-orang seperti Lia aminudin dan lainnya. Camkan ini.
    Wass. Wr. Wb.

    Balon_Kuncung | Apr 6, 2009 | Reply

  29. Ass. Wr. Wb.
    Ingin mengenal diri dan Tuhan :
    “Manusia adalah rahasia-Ku, yang dirahasiakan sifat-Ku, sifat-Ku tiada lain daripada-Ku”
    renungkanlah………
    adanya ditempat terang

    Balon_Kuncung | Apr 6, 2009 | Reply

  30. lo da tulisan yg kyak gini lgi kirimin q q dong . . .

    tak tunggu y

    thank’s

    kang gogo | Apr 20, 2009 | Reply

  31. Salam cinta untuk sang pencari…
    Semoga selalu dalam naungan dan cintaNya……
    ada sedikit info, pondokan2 penuh cinta….silahkan mampir kalau ada waktu…

    h | May 13, 2009 | Reply

  32. ass.wr.wb
    asal usul wali 9 itu orang mana? turunan arab,ada turunan persia,mesir dll
    syeikh siti jenar asli turunan jawa(pribumi asli)
    yang sampai sekarang masih dianggap budak!(perlakuan terhadap tkw indonesia)
    cooba pandang dari sudut politik! ngerti doong!
    maksudku! mereka wali 9 berupaya jangan sampai pesiar agama islam diluar turunan arbi! giitooo!
    nah turunan tanah jawa/indonesia yang kearab araban banyak kali! coba perhatiin klo sholat berjamaah jum at, banyak kali orang berp-akaian jubah arab, minyak wanginya 7 meter sudah tercium! pas berhadapan muka ternyata hidungnya pesek!! kayak kulo,panjenengan lan ustad,ulama engkang kearaben! mereka yang kearaban,selesai sholat jum at, merasa dirinya orang suci! sudah berhak menentukan mana yang hak dan mana yang batil!! dan meng klaim dirinya ahli surga!(inilah manusia yang paling di benci oleh allah dengan sebenci bencinya allah!pada umat yang takabur ini! seolah-olah penentuan masuk surga/neraka dirinya yang menentukan!) mayuni kepasten illahirobi! nyebat engkang jalmo liyo kafir. eealah menungso-menungso!!
    oleh sebab itu yo kita sama-sama bersihkan lahir dan batin kita! disetiap desah nafas kita
    sesuai dengan makna ISLAM. Setelah itu masing-masing kita cari/kenali diri sejati kita! insyaallah! bila kita mengenali diri kita (siapa diri kita.darimana diri kita,sedang apa diri kita,mengapa diri kita,jadi bagaimana diri kita danhendak kemana diri kita!! ) tentunya menuju keselamatan dunia achirat,kebahagiaan dunia achirat,tempat hidup yang abadi,indah nyaman,sebagaimana dulu adam hawa di tempatkan oleh allah swt. ( cobo ko bayangke seandainya adam lan hawa tidak tergoda oleh bujuk raya dari ibliss!!! awakmu saiki ono endi. ndo , mas,kowe lanang lan wedo!
    hehehehe ! pun ngger aku bambangan merapen pamit riyen bade kundur!! assalam mualaikum waalaikuna salam warohmatullahiwabarokatuuh! monggo!!!!

    r.bambangan banyu kukus merapen | May 20, 2009 | Reply

  33. orang lain dah kmana…kita masih disini2 aja.

    andism | May 20, 2009 | Reply

  34. Ajaran Syeh Siti Jenar banyak versinya.Apa pun dari pembacaan saya dan pemerhatian saya Syeh Siti Jenar adalah satu legenda yang diadakan demi kepentingan politik dan agama bagi kelangsungan survival.Ajaran syeh Siti Jenar adalah khusus untuk bangsa Jawa yang mana menjawakan Islam yang dipanggil Kejawen atau yang lebih pasti di kenali juga Manungaling Kaluwo Gusti.

    Mas Tirto | Jun 4, 2009 | Reply

  35. Ass wr wb,Saya baru membaca tulisan ini.secara pribadi saya menganggap syekh siti jenar seorang wali yang yang bijak tekun & taat dalam menegakan perintah & ajarannya.tetapi kurangnya dari ajaran beliau tidak dibungkus dengan syariat umum walaupun beliau mengerti benar tetang hakikat hidup.secara saya pribadi ilmu yang diajarkan adalah benar.karena kita jangan menjadi manusia yang pintar tetapi menjadi manusia yang mengerti & paham.klo jadi orang pintar tentu setiap hari kerjanya hanya menipu untuk memakmurkan diri sendiri.satu ajaran yang dapat saya ambil dari syekh siti jenar ” sebelum saya ngawula harus tahu siapa yang di kawula sebelum saya ibadah harus tahu siapa yang diibadahkan “kami rahasia manusa & manusa rahasia kami.

    saya senang dengan kreatif tulisan mas Yainal semoga semakin sukses ya mas.

    Sabda pangeling | Jun 11, 2009 | Reply

  36. Baik dan Buruk.
    (Perlunya sifat yg saling berlawanan)

    Apapun yang ada dialam / jagat raya itu hakikatnya adalah : BENAR. Kebaikan dan keburukan (terutama yang menyangkut pada perilaku ) yang ada pada semua makluk, adalah keseimbangan agar kehidupan bisa berjalan.

    Jika kebaikan dan keburukan tidak ada, maka kehidupan akan kosong seperti sedia kala.

    Dan apabila hanya kebaikan atau keburukan saja yang ada, atau salah satu saja yang muncul, maka kehidupan akan macet tidak bisa berjalan.

    Aku akan coba memberikan contoh pada apa yang telah aku katakan ini. Lihatlah pada energi listrik, jika negatif dan positip tidak dipertemukan, maka tidak akan muncul aksi (daya), dan pastilah kalian-kalian ini tidak akan dapat menyalakan komputer seperti sekarang ini.

    Dan jika kutub utara dan selatan tidak dimunculkan (dipertemukan dengan cara yang halus), maka bumi tidak akan berputar. Dan jika bumi tidak berputar, maka kalian tidak akan bisa melihat siang atau malam. Jika siang atau malam tidak terlihat, maka akan mustahil ada makluk yang hidup.

    Satu kali lagi aku sarankan pada kalian : Coba amati panas dan dingin. Berkat kedua hal tersebut : Muncullah uap yang dapat membentuk gumpalan, yang kemudian dipisahkan, sebagian menjadi udara dan sebagian lagi menjadi zat padat, lalu dari udara meleleh menjadi air dan seterusnya.

    Kedua sifat yang saling bertentangan itu memang harus ada, dan ini adalah MUTLAQ ADANYA. Tuhan bersifat baik sekaligus bersifat buruk. Dia besar sekaligus kecil. Dan semua yang ada di alam maya pada ini, berada dalam liputanya, tak terkecuali apapun dan siapapun.

    Saya baca tulisan kalian-kalian ini, membuat saya mengernyitkan dahi. Sembari muncul pertanyaan dalam hati : Sebenarnya, kalian ini memang sudah tahu (paham) atau pura-pura tahu ?!.

    Jika kalian tahu, kenapa kalian bersikap bodoh..!!. Kenapa membahayakan diri sendiri dan orang lain…????.

    Kalian seolah-olah bangga, mampu menguraikan ini dan itu bak jagoan silat, namun tanpa punya perhitungan yang matang. Ada apakah kalian ini…??!!!.

    Janganlah suka menguraikan ini dan itu, apalagi menyangkut RUHANI atau menyangkut Rabbul Alamin, Allah Sang Murbeng Dumadi. Berpikirlah yang jernih dan berkacalah terus agar bisa mawas diri.

    Ajaran yang seperti ini bukan untuk digembar-gemborkan kayak tukang jual obat, namun cukup untuk diri sendiri. Jika nanti sudah ‘ADA PERINTAH’ barulah kalian-kalian ini diperkenankan menjelaskan ‘Rahasia-rahasia-Nya’.

    Jangan bersikap bodoh, hanya karena pingin dianggap pandai. Jadilah kalian ini ‘Tong yang penuh berisi’ jangan menjadi ‘Tong kosong yang bersuara nyaring’.

    Tentang agama dan syariat didalamnya, itu adalah benar. Ini bertujuan untuk membelenggu manusia agar tidak liar seperti binatang buas. Coba, bagaimana jika dunia tanpa agama…??. Pastilah manusia akan semau gue.

    Agama itu mutlaq bikinan tuhan. Dan pada hakikatnya, tidak ada suatu bikinan yang bukan bikinan-Nya. Jika kalian menghina orang yang beragama, kalian menghina tuhan.

    Jika kalian tidak suka dengan agama dan syariat yang ada didalamnya, ya jangan mengikuti, dan sangat lebih bijak dan baik apabila kalian diam saja sembari mempertajam ruhani agar kalian-kalian ini makin tambah mengerti. Ndak usah ngomong yang neko-neko…!!. Yang nantinya dapat menjerumuskan diri sendiri.

    Jika kalian membenci agama, jangan salahkan dan sakit hati jika kelak anak cucu kalian dan orang lain tidak sopan pada kalian, disebabkan tidak punya AKLAQ.

    Tujuan orang dibelenggu dengan agama itu : agar mereka punya aklag, jika mereka punya aklaq, dunia akan selamat dari kehancura.

    Ya cukuplah sebegitu aja, semoga ini bisa menjadi peringatan untuk kita semua. Amin…!!

    Dariku :
    Manusia Bodoh
    Bowo alias Mochtar Wibowo.

    bowo | Jun 14, 2009 | Reply

  37. Saya baca trilogi Syekh siti jenar dari Dr.Abdul Munir Mulkan.
    kalau gampangnya saya sih, manusia paling baik dan sempurna kanjeng nabi SAW, ya sudah contohlah kanjeng nabi. kalau bisa mencontoh kanjeng nabi. siti jenar, al hadad dll pasti lewat. karena kedekatannya dg gusti allah sangatlah hebat.
    kenapa begitu ? karena kanjeng nabi tidak hanya bicara kita dan gusti,tentang penyembahan dll. tapi hamba dan hamba. akhlak dsb.

    Jamal eL Ahdi | Jun 20, 2009 | Reply

  38. lok u mau mendalami hakekat yang memang betul-betul abadi cobalah kamu mati dahulu. dalam artian mati sa’jeroning urip

    Mr.Cinta | Jun 24, 2009 | Reply

  39. ilmu seperti itu memang sangat sulit kamu dapatkan akan tetapi, jika kamu berusaha suatu saat pasti kamu akan menemukan jati diri kamu yang sebenarnya. yang mana dalam penyaksiannya “ASYHADU UDHU INGSUN ILLULLOH RUPANE INGSUN”.coba kamu berfikir ketika seorang bersayahadat apakah syahadatnya bisa diterima dan bisa dipertanggungjawabkan ketika bilang saya telah bersaksi. kalau cuma syahadat ilmul yaqin semua bisa bahkan anak TKpun bisa akan tetapi secara Haqqul Yaqin seribu satu yang bisa mendapatkannya

    Mr.Cinta | Jun 24, 2009 | Reply

  40. asslam, klo menurut saya ajaran syekh siti jener tu. dimana kita bisa menemukan jati diri kita dan menyatukan dengan allah. smua disini perna dengar gak dengan MANUNGSO yg artinya MANUNGALING ING ROSO.tu yg maknanya sulit dimengerti oleh orang awam. wassala

    indra | Jun 28, 2009 | Reply

  41. Assalamualakum.WR
    ulasan dan tanggapan temen2 luar biasa sekali, ada yang pro dan kontra, tapi itu lah bentuk pemikiran intelektual manusia yang semakin lama semakin berkembang, selalu mengeksplorasi pemikirannya dalam mencapai realita dan kebenaran sejati, saya pernah baca buku ttg SSJ, bagi saya ajaran SSJ yg di kupas oleh Achmad Chojim , sebenarnya tentang tuntunan hidup manusia dalam berperilaku thdp manusia lain, dan juga tuntunan dalam mencapai kedamaian batin dengan cara nya yg diajarkan SSJ untuk bisa lebih dekat dgn ALLAH, kenapa saya bilang “Dekat” karena kalau menyatu, atau di sisi, sangat kurang pas bagi kita yang masih taraf belajar.untuk itu kita marilah kita belajar untuk lebih berbudi luhur yang sebenar-benarnya seperti yg di ajarkan oleh SSJ (bg yg pernah membaca) karena dengan menerapkan budi luhur itu akan tercipta hubungan baik antara sesama manusia, maka secara otomatis kita akan menghargai ciptaan Allah, maka Allah pun akan Menghargai ciptaanNYA. dengan demikian kita akan sadar apa yg di maksud oleh SSJ itu…marilah kita coba jalankan dan rasakan itu ,,,kedamaian itu tiada duanya bersama Allah…

    gupi | Jul 9, 2009 | Reply

  42. Kisah Syekh Siti Jenar sampai sekarang masih menjadi teka teki bagi kebanyakan orang. Benarkah sosok Syekh Siti Jenar ada dalam wujudnya sebagai manusia dan hidup di zaman para Walisanga ? Benarkah makamnya ada di Jepara Jawa Tengah ?

    Sebenarnya cerita Syekh Siti Jenar adalah tajassudil makna atau masal atau perumpamaan.
    Masal adalah perumpamaan, untuk memudahkan menerima keterangan-keterangan yang sulit.
    Banyak keterangan yang bersifat rahasia yang terkandung di dalam kisah Syekh Siti Jenar.

    Arti kata “Syekh Siti Jenar” :

    Kata “syekh” dapat diartikan menurut bahasa dan juga dapat diartikan menurut istilah.
    Menurut bahasa, kata “syekh” adalah setiap orang yang sudah berumur lebih dari 40 tahun, itu dinamakan syekh baik orang itu mukmin atau orang itu kafir.
    Menurut istilah, kata “syekh” adalah setiap orang yang mempunyai ilmu hakekat, walaupun orang itu berusia sebelum 40 tahun.

    Kata “siti” berarti “isinya hati”. Tempatnya di dalam hati, bukan di bibir atau lesan.

    Kata “jenar” itu artinya kuning. Kuning itu menggembirakan.

    Siti Jenar berarti isinya hati yang kuning (yang menggembirakan).

    Di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 69 : … “Kuning warnanya, menggembirakan hati orang-orang yang melihatnya”.

    Maksudnya cerita Syekh Siti Jenar itu adalah peringatan supaya kita jangan sembrono meletakkan ilmu haq. Karena salah meletakkan ilmu haq itu adalah seperti mengalungkan berlian pada lehernya celeng/babi. Celeng itu meskipun dikalungi dengan berlian, tetap tidak akan mulia.

    Dalam Kitab Jamius Shaghir Bab huruf Tha hal 194 ada sebuah hadits yang bunyinya : Bersabda Rasulullah SAW : “Tiap-tiap orang muslim yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya laksana mengalungkan permata berlian dan mutiara serta emas di lehernya celeng” (An Anas, Rowahu Ibnu Majjah).

    Jadi kesimpulannya :
    Orang yang namanya Syekh Siti Jenar dan hidup di zaman Walisanga itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah sebagai lambang akan bahayanya meletakkan ilmu haq tidak pada tempatnya.
    Lambang itu kemudian dijasadkan agar mudah diterima. Itulah yang dinamakan Tajassudil Makna. Seandainya percaya bahwa Siti Jenar itu ada, pasti akan sesat.

    Herdoni Wahyono | Jul 22, 2009 | Reply

  43. untuk mas dan mbak yang ada disini…..

    kita tak perlu berdebat tentang syech maupun ajaran beliau.yang perlu kita perbuat adalah berbuat baik dan setiap tindakan kita hanya demi Sang Maha Kuasa.kita tak perlu berbicara ttg neraka maupun surga,karena hidup kita hanya demi ALLAH SWT semata.

    dan untuk mas Herdoni Wahyono,,syech itu pernah ada dalam kehidupan fana ini pada masa demak bintoro ketika dipimpin raden patah.dan itu realita.

    dan untuk mas YONANWAR,kami bukanlah anak TK,kami paham apa yang beliau ajarkan.dan tidak ada kesesatan dalam pemahaman yang kami terima.

    untuk semua teman-teman,saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pemikiran anda dan sumbangsih anda tentang beliau.

    sentana | Jul 26, 2009 | Reply

  44. buat mas feri kalo mau nyari tarekat akmaliyah, mungkin saya bisa bantu

    EMAN | Aug 26, 2009 | Reply

  45. bagaimanapun juga syekh siti jenar lebih pintar dari kita ( dlm Agama) kenapa kita yang baru segini aja sudah berani mempermasalahkan ,apa sih bisa kita ,jangan sok pinter, Allah Maha Mengetahui…. ingat

    anto | Sep 12, 2009 | Reply

  46. Saya tdk mau komentar ttg Siti Jenar. Tapi saya mau tanya, apakah Nabi Muhammad SAW membaca Shalawat?

    Geger | Sep 13, 2009 | Reply

  47. @geger : Shalat untuk baginda rasul dibaca langsung oleh Allah dikala isra’ mi’raj. lalu baginda rasul ikut menshalawatkan bapak umat ; ibrahim.

    ilham saibi | Sep 21, 2009 | Reply

  48. Tentang ajaran SSJ, Saya paling setuju dengan: “jadikanlah agama sebagai jalan hidupmu” yg artinya dalam bekerja dan beraktivitas sehari2 akan berbeda rasa dan makna nya bila dilandasi dgn “selalu ingat pada Tuhan” bukan pada rasa ingin memperkaya diri pribadi (korupsi, suap menyuap), mencari muka demi kenaikan jabatan, dsb. cobalah dan rasakan beda nya saudara2 ku…

    Hendra | Sep 22, 2009 | Reply

  49. Assalamualaikum wr,,,wb,,,.

    Salam kenal dari anak kebon jeruk bang,,,

    Wassalamualaikum wr,,,wb,,,.

    Taufik | Sep 22, 2009 | Reply

  50. Ass..uk smua tmen2 kalo ada yg punya info/kajian buku ttg sYeh siti Jenar N sunan kalijaga N mau berbagi..,Boleh krim k asep_sr@yahoo.com
    Trims N Wass,

    asep suhendar | Oct 12, 2009 | Reply

  51. Ass.wr.wb.
    Senang sekali membaca kajian SSJ.
    Tapi mumet rasanya otak ini memikirkannya.
    Tidak ada yang bisa aku komentari tentang ajaran SSJ ini karena belum pernah baca ajaran beliau.
    Tapi rasa bangga terhadap penulis komentar baik yang pro maupun yang kontra, krn masih dalam koridor etika, hati boleh panas kepala hrs tetap dingin.salam utk semuanya.
    Wass.wr.wb.

    Suharto Kasan | Oct 17, 2009 | Reply

  52. untuk sodaraku yang mencari thoriqoh akmaliyah coba panjenengan ikut or cari tau Thoriqoh SHIDDIQIYYAH,JOMBANG PLOSO JAWA TIMUR.

    Budi Setiawan | Oct 17, 2009 | Reply

  53. kalo memang anda2 ini pengen tau tentang syeh siti jenar..panggil saja beliau ajak ketemuan antar jiwa pasti anda2 gak perlu berpolemik tentang beliau..suwun.

    Budi Setiawan | Oct 24, 2009 | Reply

  54. Ingsun kang sejatine urip yo siro sejatine urip ingsun allah yo siro alloh.sir eling sejatine urip.sir kui allah badan putih tanpo geteh.

    Suwito | Oct 25, 2009 | Reply

  55. wahai saudara2ku, byk yg blm tau rupanya kalau Syeckh Siti Jenar = Sunan Gunung Jati, byklah belajar, jgn hanya belajar pada sejarah semata tp belajar jg pada yang sejati, sejatinya hidup, maka kita akan mendapat kebenaran sejati pula.

    faisal | Oct 27, 2009 | Reply

  56. Salam!
    Saudara saudaraku,bagus sekali kita semua berdiskusi seperti ini.Tapi jangan kita membuat seolah olah menjalani hidup ini demikian sulit. Jalankan saja mulai dari yang paling mudah, seperti misalnya menyingkirkan duri atau pecahan kaca dari jalan. Atau memberi sedekah kepada sesama, ikut memperhatikan nasib anak-anak terlantar dan lain sebagainya. Allah menciptakan manusia agar bisa menjadi khalifah/panutan/suri tauladan. Seandainya kita semua bisa membuat hati ini merasakan susahnya orang lain yang sedang kesusahan, dan bisa merasa bahagia pada saat melihat orang lain bahagia, kita sama sekali tidak merasa berat untuk memberikan sebagian harta kita untuk sesama.Dan buatlah diri kita agar bisa bermanfaat untuk sesama, karena semua yang ada pada kita adalah milik-Nya. Kalau kita bisa menjalankan itu semua, saya kira itulah makrifat. Kita sama sekali tidak memiliki apa-apa, semua adalah milik-Nya, termasuk diri kita.
    Salam !

    baset | Nov 4, 2009 | Reply

  57. Saya setuju dgn tanggapan di atas [semuanya]. Yang pada intinya, pada masa ajaran itu muncul, manusia belum sampai pada kemampuan untuk menerima ajaran tersebut. Tetapi pada masa sekarang dengan semakin berkembangnya jaman dan semakin banyaknya manusia yg kritis serta semakin luasnya tingkat kesadaran maka ajaran-ajaran itu dapat diterima sesuai dgn tingkat kesadaran masing-masing individu.

    Untu | Nov 7, 2009 | Reply

  58. Terlalu muda dan dangkal pengetahuan kita terhadap Islam maka perbanyak belajar dan belajar dari manapun termasuk kepada orang Cina dll, agama lain dll, agar kita lebih dewasa yang tidak mudah mencemooh kepada orang lain, agama lain bahkan mencemooh agama sendiri karena beda syariat, BELAJAR DAN BELAJARLAH, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua termasuk kepada yang beragama berbeda dengan kita, amin3

    Choli M | Nov 10, 2009 | Reply

  59. very very thanks for siti jenar. i hope many people like you in the world

    heriyadi | Nov 13, 2009 | Reply

  60. Alhamdulillah, allah akbar 3x sedikit demi sedikit tabir Siti Jenar mulai terbuka, kebenaran hakiki adalah milik Allah, semoga kita selaku hamba Allah mampu menjadi hamba yang ta’at. bukan pada lahir saja akan tetapi sampai Qolbu kita.
    ( ingsun syukur ing dzatingsung nadyan reget lan kebak doso, sun sumadyo ngayahi neroko…..nerimo marang kodrating kang kuoso… sun syukur atas wujud dzat ingsun tan ora wujud ).

    akmaliya | Nov 14, 2009 | Reply

  61. bagaimana cara belajar ma’rifat akmaliya dan tempatnya dimana?

    ari santoso | Nov 19, 2009 | Reply

Post a Comment