Study is Boring, but Learning is FUN
Bagi sebagian orang, belajar di luar negeri konon cenderung bisa meningkatkan standar gaji kita kelak. Sebab utamanya adalah mutu gelar yang diraih. Memang sih bukan jaminan bahwa lulusan luar negeri memiliki kemampuan dan kecerdasan lebih tinggi ketimbang lulusan dalam negeri. Tapi apa boleh buat beberapa company di Indonesia memang masih overseas minded.
Masalahnya, benarkah mereka yang belajar di luar negeri sehebat yang kita kira? Bagaimana pula jika orang yang sekolah tersebut seperti aku ini?
Dewasa ini paradigma tentang bagusnya mutu “agent of change” produk luar negeri tidak bisa dipukul rata. Semuanya tergantung individu. Banyak diantara mahasiswa -terlebih yang berkesempatan untuk kuliah di luar negeri semudah menjentikkan jari hanya mengikuti alur kehidupan begitu saja tanpa ada perjuangan yang berarti.
Beberapa orang memilih posisi nyaman dengan menjalani hidup tanpa konflik. Mengesampingkan interaksi dengan bangsa negara bersangkutan. Hanya menghadiri kuliah, memahami diktat kuliah, kemudian mendekam di rumah tidak berbaur bahkan dengan tetangga flat sendiri. Yang penting bisa makan, hidup, lulus ujian dan mendapat gelar. Jadi belajar hanya menjadi sebuah rutinitas belaka.
Kalau begini ceritanya, bisa saja mutu yang dibanggakankan tadi harus dipertanyakan. Kita bisa melihat beberapa lulusan luar negeri hanya menjadi pekerja di instansi rendahan dan tidak punya kelebihan lain yang bisa dibanggakan karena tidak terlatih untuk berhadapan dengan konflik hidup dan berinteraksi dengan bermacam-macam orang. Lalu apa bedanya dengan belajar di negeri sendiri?
Bagiku, lebih dari sekedar gelar, proses kuliah di luar negeri yang tidak hanya meliputi bagaimana bisa mendapatkan IPK yang bagus atau nanti setelah kembali bisa bekerja dengan gaji yang tinggi, tapi juga bagaimana bisa bertahan hidup di negeri orang, adalah suatu hal yang menjadi pelajaran berharga dalam hidup. Bagaimana cara berinteraksi dengan apik, fleksibel dan bisa menyisakan ruang perbedaan. Culture shock adalah soal lain yang juga butuh usaha keras. Kalau belum usaha, jangan bilang tidak bisa.
Sebenarnya kenapa harus belajar di luar negeri? Bukankah jawabannya adalah untuk meningkatkan kualitas diri dan belajar hidup mandiri? Mahasiswa yang pernah belajar di luar negeri biasanya sering dicari. Mereka dianggap memiliki keterampilan yang lebih, termasuk dalam berbahasa asing, berkomunikasi lintas budaya, fleksibilitas, serta beradaptasi dengan lingkungan baru.
Belajar di luar negeri adalah pengalaman berharga yang dapat mengubah hidup kita. Pengalaman hidup di negara lain untuk melihat langsung bagaimana bangsa lain hidup, berpikir, bekerja, dan bermain, adlah pengalaman yang tidak tergantikan. Kesempatan ini membuka suatu dunia yang penuh denga pengalaman baru.
Hidup dan berbaur bersama masyarakat di negara lain memberi kesempatan mahasiswa Indonesia di luar negeri utuk memahami secara lebih baik karakter dan cara hidup masyarakat negara yang bersangkutan.
Itu seharusnya yang terjadi. Tapi bagi para pelajar di luar negeri bisa saja kesempatan ini menjadi sia-sia, bisa saja menjadi membosankan. Hal ini disebabkan apabila mereka hanya mengejar target kelulusan dengan pola belajar yang monoton dan terkadang membuat beban. Oleh karena itu selama belajar di luar negeri, suatu keharusan bagi para pelajar bagaimana menjadikan belajar di luar ngeri bukan hanya belajar akademis fakultatif saja. Tapi bagaimana bisa belajar tentang apa saja. Tentang hidup kita dan hidup bangsa lain. Sadar bahwa belajar adalah aktivitas sejak dini hingga mati dan setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Sehingga akan lebih banyak alur hidup yang naik turun, tidak statis, dan penuh tantangan. Bukankah belajar seperti ini lebih indah dan menyenangkan?
People said study is fun, but i said study is boring, learning is fun….
End of the perfect day?
Berjuang pada saat kita hidup itu perlu, asal inget aja, kita matipun tak membawa secuilpun darinya.
Ketika kamu mencintai seseorang, tak ada syarat untuk itu, bahkan tidak juga syarat untuk memintanya terus berada bersamamu, seseorang yang bijak mengatakan hal ini kepada saya, muridnya… beberapa tahun yang lalu.
Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara (orang lain)
Ya.. fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Kalo nggak salah itu merupakan bunyi dari salah satu pasal atau ayat (lupa deh…) dalam Undang-Undang Dasar 1945 negara tercinta kita, Indonesia. Hanya saja yang sekarang aku alami adalah fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara orang lain, bukan oleh negara sendiri yang notabene merupakan tempat dimana aku dilahirkan, dibesarkan dan dididik.
Ironis memang, tapi itulah kenyataan yang ada. Negara kita tercinta memang belum cukup memiliki kemampuan untuk mensejahterakan semua rakyatnya. Setelah terpuruk dalam krisis di tahun 1997 lalu, negara kita memang belum sempat (atau belum bisa) bangun lagi untuk unjuk gigi di dunia internasional. Seorang rekan dalam menuntut ilmu berujar: Gimana mau unjuk gigi, mo benahin apa yang terjadi di dalam negeri aja masih amburadul. Jika beruntung, kita masih harus menunggu satu generasi untuk dapat berubah!
Ada pengalaman bagus menurut dia. Pernah suatu kali dia memberikan materi training bagi pegawai negeri di salah satu instansi daerah dan selidik punya selidik akhirnya diketahui bahwa motivasi utama mereka mau belajar akutansi adalah agar tidak ketahuan jika terjadi penyalahgunaan dana. Lha kalo motivasi utamanya udah itu, trus mau gimana?
Break
Sometimes we need a break… apalagi buat sebuah perjalanan hidup ini yang tak tahu masih berapa panjang lagi. Bukan berhenti, setidaknya cukup untuk rehat sejenak. Nggak ngelupain tujuan atau ganti arah. Hanya sekedar narik napas panjang dari sebuah laju yang kadang cukup cepat. Menata lagi kembali langkah yang mungkin kemaren terseok dan tercecer. Membetulkan lagi kancing-kancing niat yang mungkin longgar [hingga mudah lepas], kurang pas atau salah taruh.
Seseorang yang bijak pernah berkata kepada saya, “Buat menambah percepatan, kadang kita harus mengendap mengumpulkan energi”.
Dan rupanya saya sudah lupa sama kalimat yang dulu saya pegang: “Menahan selangkah, buat maju empat langkah”
Yeahh, sometimes we need a break… right?
nb:
It just a little break… just enough for a little deep breath…
Perencanaan Yang Baik Adalah Separuh dari Kemenangan
Senin, 17 April 2006, 13:29:09 WIB
- www.presidensby.info
Jakarta: Musrenbangnas Tahun 2006 yang diselenggarakan 17 – 20 April 2006 ini , menurut Presiden SBY merupakan forum tepat untuk bersama – sama menyamakan kerangka berpikir, persepsi dan pemahaman kita tentang masalah yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia dewasa ini.














