Isu-Isu Penataan Ruang dalam Otonomi Daerah
Pada dasarnya penataan ruang merupakan suatu implikasi dari pengembangan daerah yang menghendaki suatu rencana tata ruang yang tersendiri yang tidak lagi menjadi bagian dari rencana atau penataan ruang yang sudah ada. Berdasarkan latar belakang tersebut, prinsip perencanaan tata ruangnya adalah dalam rangka pengembangan wilayah. Karena itu haruslah diperhatikan aspek-aspek yang mendasari pengembangan wilayah (regional development) seperti sumber daya manusia (human resources), sumber daya alam (natural resources), serta dukungan pranata sistem (institutional infrastructure).
Penataan Ruang dalam Otonomi Daerah
Lahirnya Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah (nomor dan tahun berapa lupa, tolong diupdate), memberikan legitimasi untuk menyerahkan kewenangan dalam proses penyelenggaraan penataan ruang kepada daerah. Implikasinya adalah peningkatan peran pemerintah daerah dalam mengelola sumber dayanya guna memeberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam era desentralisasi dan partisipasi masyarakat serta keterbukaan, juga telah terjadi kecenderungan yang berkembang dalam masyarakat dan juga keinginan pemerintah daerah yaitu agar dalam penyelenggaraan otonomi daerah peran masyarakat dalam proses pembangunan harus diutamakan.
Apa Kata Mereka tentang BUKU
Orang mana bisa tahu tentang waktu yang dihabiskan
Dan susah payahnya belajar membaca (buku)
Saya sudah 80 tahun berusaha,
Belum juga mencapai tujuan
[Goethe]
Buku adalah pengusung peradaban
Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet.
Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, “mercu suar” seperti kata seorang penyair, “yang dipancangkan di samudera waktu”.
[Barbara Tuchman, 1989]
Buku adalah jendela
Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini
Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela
[Henry Ward Beecher, 1870]
Buku itu seperti taman
Yang bisa dimasukkan ke dalam kantong
[Pepatah Tiongkok]
Buku adalah benda luar biasa
Buku itu seperti taman indah penuh dengan bunga aneka-warna,
Seperti permadani terbang
Yang sanggup melayangkan kitaKe negeri-negeri tak dikenal sebelumnya
[Frank Gruber, 1944]
Buku menghirup udara dan menghembuskan minyak wangi
[Eugene Field, 1896]
Buku harus menjadi kampak
Untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita.
[Franz Kafka, 1883-1924, cerpenis dan novelis Austria]
Tanpa buku Tuhan diam,
Keadilan terbenam
Sains alam macet,
Sastra bisu,
Dan seluruhnya dirundung kegelapan
[Thomas V. Bartholin, 1672]
Buku adalah teman paling pendiam dan selalu siap di tempat.
Penasehat yang paling mudah ditemui dan paling bijaksana,
Serta guru yang luar biasa sabar
[Charles W. Eliot, 1896]
Saya tidak membaca buku:
Saya berbicara dengan pengarangnya
[Elbert Hubbard, 1927]
Buku berfikir untuk saya
[Charles Lamb]
Buku itu cermin
Kalau keledai bercermin disitu,
Tak akan muncul wajah ulama
[G.C. Lichtenberg]
Buku sebenarnya bukanlah yang kita baca,
Tapi buku yang membaca kita
[W.H. Auden, 1973]
Wanita piaraan saya
Buku
[S.J. Adair Fitzgerald]
Kalau ada uang sedikit, saya beli buku,
Kalau masih ada sisanya,Saya beli makanan dan pakaian
[Desiderius Erasmus]
Biarlah saya jadi orang miskin,Tinggal di gubuk tapi punya buku banyak
Daripada jadi raja tapi tak suka membaca
[Thomas B. Macaulay, 1876]
Banyak orang seperti saya
Orang yang perlu buku, seperti mereka perlu udara
[Richard Marek, 1987]
Saya tak bisa hidup tanpa buku
[Thomas Jefferson, 1815]
Duduk sendirian dibawah sinar lampu,
Buku terkembang di depan,
Bercakap-cakap secara akrab dengan manusia dari generasi yang tak tampak.
Sungguh suatu kenikmatan yang tak bertara
[Yoshida Kenko, 1688]
Kebiasaan membaca itu satu-satunya kenikmatan yang murni
Ketika kenikmatan lain pudar, kenikmatan membaca tetap bertahan
[Anthony Trollope]
Seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan
Bila tidak dikelilingi buku-bukunya
[Francois Mitterand, Presiden Perancis, 1982]
Seperti daging untuk jasmani, begitulah bacaan untuk jiwa
[Seneca]
Membaca buku bagus
Seperti bercakap-cakap dengan orang hebat
Dari abad-abad terdahulu
[Rene Descartes, 1617]
Orang dapat memperoleh pendidikan kelas atas
Dari rak buku sepanjang lima kaki
[Charles William Eliot, Rektor Universitas Harvard]
Universitas sejati hari ini
Adalah sebuah kumpulan buku
[Thomas Carlyle]
Lilin dan Matahari
Menilik perjalanan hidup yang telah kujalani, aku paham bahwa tak seharusnya aku hanya menjadi sebuah lilin. Lilin yang menyinari sekitarnya tapi hancur tak berdaya…lilin yang menerangi sekitarnya tapi tak punya kekuatan. Aku paham kalau ingin jadi penerang dimensi sekitarku, aku harus menjadi matahari! Karena ia menerangi tanpa perlu menghancurkan dirinya sendiri dan ia punya kekuatan berarti.
Sejenak kupandangi cermin yang ada didepan mata dan melihat diri sendiri, seolah-olah dia berkata:
“Ya, bila ingin menjadi Anfa’un Nass bagi orang-orang di sekitarmu itu adalah baik sekali…tapi jangan lupakan diriku.”
“Ya, bila bisa membantu orang-orang di sekitarmu menemukan potensi serta kepercayaan dirinya yang pernah hilang adalah suatu kebahagiaan…tapi jangan lupakan diriku.”
“Ya, bila ingin menjadi problem solver bagi permasalahan hidup orang-orang di sekitarmu dan mencoba memikul sebagian beban mereka adalah sangat mulia… tapi jangan lupakan diriku.”
“Jangan coba lupakan aku lagi!”
“Jangan lupakan bahwa jasadku bahwa ia butuh diperhatikan juga… Jangan lupakan ruhi ku bahwa ia perlu basah tersiram selalu… “
Study is Boring, but Learning is FUN
Bagi sebagian orang, belajar di luar negeri konon cenderung bisa meningkatkan standar gaji kita kelak. Sebab utamanya adalah mutu gelar yang diraih. Memang sih bukan jaminan bahwa lulusan luar negeri memiliki kemampuan dan kecerdasan lebih tinggi ketimbang lulusan dalam negeri. Tapi apa boleh buat beberapa company di Indonesia memang masih overseas minded.
Masalahnya, benarkah mereka yang belajar di luar negeri sehebat yang kita kira? Bagaimana pula jika orang yang sekolah tersebut seperti aku ini?
Dewasa ini paradigma tentang bagusnya mutu “agent of change” produk luar negeri tidak bisa dipukul rata. Semuanya tergantung individu. Banyak diantara mahasiswa -terlebih yang berkesempatan untuk kuliah di luar negeri semudah menjentikkan jari hanya mengikuti alur kehidupan begitu saja tanpa ada perjuangan yang berarti.
Beberapa orang memilih posisi nyaman dengan menjalani hidup tanpa konflik. Mengesampingkan interaksi dengan bangsa negara bersangkutan. Hanya menghadiri kuliah, memahami diktat kuliah, kemudian mendekam di rumah tidak berbaur bahkan dengan tetangga flat sendiri. Yang penting bisa makan, hidup, lulus ujian dan mendapat gelar. Jadi belajar hanya menjadi sebuah rutinitas belaka.
Kalau begini ceritanya, bisa saja mutu yang dibanggakankan tadi harus dipertanyakan. Kita bisa melihat beberapa lulusan luar negeri hanya menjadi pekerja di instansi rendahan dan tidak punya kelebihan lain yang bisa dibanggakan karena tidak terlatih untuk berhadapan dengan konflik hidup dan berinteraksi dengan bermacam-macam orang. Lalu apa bedanya dengan belajar di negeri sendiri?
Bagiku, lebih dari sekedar gelar, proses kuliah di luar negeri yang tidak hanya meliputi bagaimana bisa mendapatkan IPK yang bagus atau nanti setelah kembali bisa bekerja dengan gaji yang tinggi, tapi juga bagaimana bisa bertahan hidup di negeri orang, adalah suatu hal yang menjadi pelajaran berharga dalam hidup. Bagaimana cara berinteraksi dengan apik, fleksibel dan bisa menyisakan ruang perbedaan. Culture shock adalah soal lain yang juga butuh usaha keras. Kalau belum usaha, jangan bilang tidak bisa.
Sebenarnya kenapa harus belajar di luar negeri? Bukankah jawabannya adalah untuk meningkatkan kualitas diri dan belajar hidup mandiri? Mahasiswa yang pernah belajar di luar negeri biasanya sering dicari. Mereka dianggap memiliki keterampilan yang lebih, termasuk dalam berbahasa asing, berkomunikasi lintas budaya, fleksibilitas, serta beradaptasi dengan lingkungan baru.
Belajar di luar negeri adalah pengalaman berharga yang dapat mengubah hidup kita. Pengalaman hidup di negara lain untuk melihat langsung bagaimana bangsa lain hidup, berpikir, bekerja, dan bermain, adlah pengalaman yang tidak tergantikan. Kesempatan ini membuka suatu dunia yang penuh denga pengalaman baru.
Hidup dan berbaur bersama masyarakat di negara lain memberi kesempatan mahasiswa Indonesia di luar negeri utuk memahami secara lebih baik karakter dan cara hidup masyarakat negara yang bersangkutan.
Itu seharusnya yang terjadi. Tapi bagi para pelajar di luar negeri bisa saja kesempatan ini menjadi sia-sia, bisa saja menjadi membosankan. Hal ini disebabkan apabila mereka hanya mengejar target kelulusan dengan pola belajar yang monoton dan terkadang membuat beban. Oleh karena itu selama belajar di luar negeri, suatu keharusan bagi para pelajar bagaimana menjadikan belajar di luar ngeri bukan hanya belajar akademis fakultatif saja. Tapi bagaimana bisa belajar tentang apa saja. Tentang hidup kita dan hidup bangsa lain. Sadar bahwa belajar adalah aktivitas sejak dini hingga mati dan setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Sehingga akan lebih banyak alur hidup yang naik turun, tidak statis, dan penuh tantangan. Bukankah belajar seperti ini lebih indah dan menyenangkan?
People said study is fun, but i said study is boring, learning is fun….














