Belajar dari Kota Laba-Laba, Spider Town
Tahu film Spiderman? Terserah, yang mana aja. Pernah menontonnya? Saya pernah. Bahkan, saya pun sedikit banyak belajar dari film tersebut.
Nah sekarang, bagaimana kalau Spider Town? Pernah mendengarnya? Belum? Jangan khawatir! Saya pun ketika pertama kali mendengarnya berkomentar, “Emang beneran ada?”. Dan daya tarik nama itulah yang membuat saya semain penasaran mengunjungi Spider Town. Setelah tukar pengalaman di Konstanz pagi tadi, saya sudah tidak sabar untuk cepat-cepat menghabiskan makan siang di pinggiran Bodensee ini.
Tato Usaha
Dulu, salah seorang teman saya pernah bilang bahwa jika membuat tato itu sama dengan menikah. Pertama kali mendengar kata-kata itu, ekspresi saya adalah, “Heh? Yang bener aja ahh… ”.
“Ehh.. iya lho. Benerr itu..”, katanya.
“Kok bisa?”, tanya saya.
“Gini Nal..Tato.. apapun itu.. mo gambar kek, tulisan kek.. atau apa lah .. kan bakal digoreskan secara permanen di kulit. Nah, untuk memilih gambar itu kan sama aja seperti memilih calon pendamping yang bisa langgeng seumur hidup. Rasa yang tercipta ketika jarum mulai menjalari kulit yang sudah dibersihkan itu sama seperti merasakan sakit dan senangnya menjalani hubungan dalam menikah… “
“Oke.. trus..?”, tanya saya.
Buatlah Produk yang Bisa Dijual, Bukan Menjual yang Bisa Dibuat
Dalam sebuah pelatihan, terlihat A Fung sedang memberikan materi pelatihan tentang product development. Dia menjelaskan bagaimana mengembangkan suatu produk yang dilandasi oleh pengamatan terhadap trend yang ada, analisis pasar sederhana dan strategi pemasaran berbasis fair trade dan internet. Sambil menjelaskan, A Fung pun tak lupa menunjukkan beberapa hasil kreasi pengembangan produk yang dilakukan perusahaannya. Tak lupa, A Fung pun membumbui penjelasan yang dilakukannya dengan sedikit humor agar para peserta pelatihan tidak bingung.
Setelah dirasa semua materi sudah tersampaikan semua, A Fung pun membuka sesi tanya jawab. Salah seorang peserta pun kemudian mengacungkan jarinya ke atas. Melihat itu, A Fung pun berkata, ”Silahkan Bapak, monggo…”.
Mendaki Gunung
Bagi seorang pendaki gunung, perjalanan mendaki gunung tidaklah sekedar perjalanan menelusuri alam saja. Ada perjalanan hati di dalamnya. Kepuasan perjalanan hati ini berbeda-beda, tergantung dari sang pendaki – termasuk saya.
Pendaki gunung, tentu juga akan paham betul arti sebuah kebersamaan. Terlebih jika kita mendaki gunung secara bersamaan. Kemana pun langkah kaki bergerak, haruslah bersamaan. Tidak ada yang tertinggal. Satu sakit, atau capek, maka seluruh anggota tim hendaknya beristirahat dan menunggu untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak. Masalahnya, kadang ada yang sakit atau hanya ”merasa” sakit. Parah lagi, jika ada yang pura-pura sakit karena merasa perjalanan masih jauh.
Komunikasi Tulalit Pendidikan, Tanggung Jawab Mahasiswa Juga?
Meski saya termasuk orang yang tidak mengagungkan gelar, saya percaya bahwa STUDI dan KARIR adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain.
Tidak percaya?
Silahkan ambil surat kabar yang terbit hari ini dan carilah iklan mengenai lowongan kerja. Jika sudah sudah menemukannya, cobalah baca semua lowongan yang tersedia disitu. Lalu, cobalah pula hitung berapa banyak lowongan kerja yang mencantumkan syarat pendidikan minimal – baik itu yang mensyaratkan SMA/SMU/SMK, D2, S1, S2 sampai S3.

Masalahnya, dalam surat kabar yang sama, kita juga mungin akan menemukan berita tentang tingginya tingkat pengangguran. Ribuan lulusan yang dihasilkan oleh sekian banyak lembaga pendidikan masih pula menganggur. Apa yang salah?














