Jangan Takut untuk Bermimpi

SCENE 1:
EXT. DEPAN RUANG KELAS SMAN 1 LAMONGAN, JAM ISTIRAHAT (AKHIR 1993)
“Apaan tuh?“, tanya Suryono, sahabat saya, ketika menyaksikan amplop tebal coklat yang saya pegang.
“Lamaran.. “, jawab saya singkat.
“Lamaran apa?”, tanyanya kembali.
“Hehehe.. mo coba uji keberuntungan, lamar beasiswa ke Singapura.. ada iklannya tuh di Jawa Pos“, jawab saya sambil nyengir.
“Makan-makan ya ntar jika dapet.. “, celetuk teman yang lain ketika mendengar pembicaraan kami.
“Hahaha.. kamu ini mikirnya makan mulu.. “, kata saya sambil tertawa.
******
SCENE 2:
EXT. DEPAN RUANG KELAS SMAN 1 LAMONGAN, ABIS PENGUMUMAN UMPTN (1994)
“Gimana kabar lamaran beasiswanya Mas? Perasaan dah lama deh.. dah ada kabarnya belum?”, tanya Antiq, saudara dekat saya, yang juga kebetulan satu kelas dengan saya.
“Udah.. “, jawab saya.
“Dapet?”, tanyanya lagi.
“Belum rejeki… untuk yang Singapura..”, jawab saya lagi.
“Tapi… dapet tawaran di Pelita Harapan…”, lanjut saya.
“Trus?”, tanyanya penasaran.
“Nggak berangkat aku yang Pelita Harapan”, jawab saya lagi.
“Kenapa?“, tanyanya.
“Hehehe.. nggak ada duit aku ke sana.. Lagian, itu kan sekolahnya orang kaya.. nggak kuat aku hidup di sana.. Tahu sendiri kan gimana kondisi yang ada.. Bayangin deh, kalaupun aku ambil.. berapa duit yang dibutuhkan untuk hidup. Meski dapet asrama, tetep aja susah.. Jadi, aku ambil yang UGM aja.. aku diterima di sana juga..”, jawab saya menjelaskan.
“Sayang dong Mas, kesempatan cuma dateng sekali.. “, katanya serasa memahami gelisah hati saya.
“Nggak pa-pa, insya Allah akan ada kesempatan lain yang akan datang.. mimpi itu tidak akan berubah.. “, kata saya sambil meredam perih.
******
SCENE 3:
INT. KERETA ICE, JERMAN (JULI 2000)
“Bagaimana perasaan kamu sekarang.. berada di luar negeri?“ tanya Andreas, rekan kerja saya, ketika kami sedang dalam kereta ICE yang melaju dari Frankfurt (Jerman) ke Konstanz (Jerman).
“Just like a dream..“, jawab saya.
“Seperti mimpi? How come?”, tanya dia balik.
“Hmm.. setahun yang lalu, saya bermimpi akan menghirup udara Eropa. Dan saat itu, Inggris adalah tujuan saya. Sekarang, meski di daerah yang berbeda, tetap saja saya berada di Eropa… sekaligus diberi kesempatan mencicipi mimpi saya itu. Dan karena itulah saya bilang bahwa ini seperti mimpi..“, kata saya.
“Hahaha.. kamu benar. Ini juga Eropa, dan meski tidak di Inggris, mimpi kamu jadi kenyataan..“, kata Andreas sambil menyeruput kopi yang ada di depannya.
*****
Note:
Selamat berjuang buat rekan-rekan semua yang sedang bermimpi untuk melanjutkan studi di Jerman ataupun Belanda. Tidak ada yang salah dengan menggantung mimpi setinggi langit.. apapun mimpi itu.. dan seaneh apapun mimpi yang ada..















People never b afraid get dreaming, but mostly they’re just too afraid to make it come true
let’s start to dream…
mimpi selanjutnya apa lagi, pak guru?
*menunggu scene 4
pak begini pak, saat saya bermimpi tengtang yang baik, saya masih tidur tapi kalau tengtang yang buruk dan keras saya takut dan terbangun pak.
kalau seperti gini gimana solusinya pka.
dan bagaimana cara saya untuk mengatasinya pak.
mohon ya solusinya sesuai dengan kemanpuan bapak.kalau bisa langsung kirim ke email gue pak.
kabulkan permintaan saya.
waaah, itu mimpi apa harapan, cak? soale kalo mimpi susah diatur biar nongol scene tertentu. hehe..
selamat deh. trnyata mimpinya terwujud semua. btw, kupatan ketemuan yuk. hehe..
*nyungsep maneh ben iso mimpi. hihihi..