Episode Negeri Mimpi

Komunikasi Tulalit Pendidikan, Tanggung Jawab Mahasiswa Juga?

Posted by Yainal on Oct 22, 2008 in Study and Career | 5 Comments

Meski saya termasuk orang yang tidak mengagungkan gelar, saya percaya bahwa STUDI dan KARIR adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain.

Tidak percaya?

Silahkan ambil surat kabar yang terbit hari ini dan carilah iklan mengenai lowongan kerja. Jika sudah sudah menemukannya, cobalah baca semua lowongan yang tersedia disitu. Lalu, cobalah pula hitung berapa banyak lowongan kerja yang mencantumkan syarat pendidikan minimal – baik itu yang mensyaratkan SMA/SMU/SMK, D2, S1, S2 sampai S3.

Lowongan Kerja

Masalahnya, dalam surat kabar yang sama, kita juga mungin akan menemukan berita tentang tingginya tingkat pengangguran. Ribuan lulusan yang dihasilkan oleh sekian banyak lembaga pendidikan masih pula menganggur. Apa yang salah?

Entahlah..

Salah satu permasalahan klasik dari dunia pendidikan (dimana pun itu, bukan hanya di Indonesia) adalah komunikasi tulalit antara lembaga pendidikan dan dunia industri (perusahaan). Idealnya, lembaga pendidikan menghasilkan lulusan (terdidik) yang bisa memenuhi kebutuhan yang ada di dunia industri. Di sisi yang lain, idealnya, dunia industri pun mengkomunikasikan kebutuhannya kepada lembaga pendidikan.

Nah masalahnya, yang ideal itu kebanyakan hanya ada di awang-awang. Begitu pula yang terjadi di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan merasa dirinya sudah mencoba mengikuti dan memenuhi apa yang dibutuhkan di dunia industri/perusahaan, dan begitu juga sebaliknya. Susahnya lagi, banyak dijumpai (calon) lulusan yang inginnya juga serba instan. Termasuk urusan pekerjaan..

Lalu, jika sudah begini..apa yang bisa dilakukan?

Sebagai praktisi, salah satu hal yang bisa saya lakukan adalah melihat dan melakukannya dari dunia saya. Dan contoh sederhana serta yang paling gampang adalah dari apa yang saya alami sendiri. Bukankah begitu?

Akhir Februari yang lalu, atas tuntuan pekerjaan, saya mencari satu atau dua orang yang bisa mendukung salah satu bidang dari pekerjaan yang akan saya lakukan. Beberapa jalan saya tempuh. Dan setelah mencari kesana kemari dan tidak menemukan yang saya harapkan, saya pun akhirnya memutuskan untuk membangun jalan sendiri. Non formal, dan Putra adalah salah satu contohnya.

Lain saya, lain pula teman saya. Dua kali sudah dia meminta bantuan saya untuk dicarikan programmer yang mau bekerja di perusahaan yang sedang dibangunnya. Bulan Juli yang lalu adalah kali pertama dia meminta bantuan kepada saya. Terakhir, akhir Ramadhan kemarin dia meminta tolong lagi untuk hal yang sama. Rupanya, dia pun mengalami hal yang sama dengan saya.

Saya dan teman saya, bukanlah satu-satunya yang mengalami hal di atas. Sejauh yang saya tahu, beberapa rekan yang lain pun mengalami hal yang sama. Saya memilih jalan sendiri, “kaderisasi” non formal-personal. Para rekan saya yang lain juga mungkin memiliki jalan sendiri. Dan meski jalan yang kami tempuh berbeda, saya rasa, benang merahnya adalah tidak bergantung pada kondisi yang ada.

Jadi, jika Anda adalah mahasiswa, mulailah pro aktif mendekati dunia industri yang akan menjadi wahana kerja Anda di masa yang akan datang. Merencanakan karir bagi diri sendiri juga bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Jika sukses, siapa tahu pekerjaan malah datang sebelum Anda lulus kuliah.

Note:
It’s not about capitalism, it’s bigger than that…

Comments

5 Responses to “Komunikasi Tulalit Pendidikan, Tanggung Jawab Mahasiswa Juga?”
  1. icha says:

    aku termasuk kadermu juga ndak? :p lah banyak belajar dari sang kolaborator jeee….

    eh notenya itu loh, udah tahu pasti kan bagaimana komentarku tentang koneksi antara dunia pendidikan dan industri…hahahaha..

    mengutip kata-kata inge marie, “you’re fast learner.. “ .. :)

  2. satu cara yang ampuh adalah silaturahmilah, belajar bukan untuk tujuan uang dulu, karena uang akan datang ketika kita bs mengaktualisasikan kmampuan.

    untuk koment ke artikel mas yainal :
    predeksi dari pengamatan saat saya masih duduk d bangku kuliah adalah
    mreka yang menjabat dalam dunia pendidikan juga kurang silaturahmi dalam bahasa jaman sekarang kurang gaul gitu lhoh. dari situ jelas bahwa informasi yang mreka dapatkan juga kurang beragam pada akhirnya yang muncul adalah asumsi tanpa dasar riset yang kuat dengan begitu kurikulum yang d hasilkan juga “kurikulum asumsi”
    coba perhatikan ketika kita ngbrol. kata yang akrab dimulai ketika orang ingin ber opini adalah kata mungkin…bla bla bla (nggak pede)

    akurrr.. belajar dengan tujuan uang, dapetnya cuman uang.. nothing more..

  3. Rafki RS says:

    Menarik sungguh menarik. Sungguh bermanfaat ulasannya Mas Yainal untuk saya yang merupakan tenaga pendidik.

  4. aya says:

    cuman nguscapin aja…. Met Ultah ang ke….. berapa ya…. sorry telat….. habis tiap hari sibuk jadi bu RT hehe……. aq suka semua artikelnya, moga bisa jadi semangat aq biar ndak cuman jadi bu RT aja……

    makasih….

  5. mfathur says:

    He he he…aku sampe putus asa soal cari mencari programer ini.

    Ada banyak lamaran, tp kacang panjang semua…

    Dulu aku masih sanggup ngajarin, mendidik, sekarang wah…mana sempat.

    Belum pintar pun dah kabur…atau akunya yang terlalu keras dan terlalu tinggi ekspektasinya. Perasaan gak sih.

    mas fathur.. bukannya realitas memang seperti itu? tidak banyak yang bisa lolos proses probation time… btw, aku ada beberapa resource yang kelihatannya bisa jadi terget didikan kamu di batam selanjutnya neh… mau? triple win solution lah.. :)

Leave a Reply



Next Article :Mendaki Gunung