Obrolan Warung Kopi
Anda termasuk salah satu penikmat kopi? Sebagian dari kita mungkin termasuk golongan penikmat kopi. Tidak masalah apakah Anda menikmatinya setiap hari ataukah hanya menikmatinya dikala diperlukan. Tidak masalah pula apapun jenis kopi yang Anda sukai. Satu yang pasti, kopi memberikan sensasi tersendiri bagi yang menikmatinya. Saya salah satunya.
Istilah “Warung Kopi” atau WARKOP menjadi icon tersendiri di era 80an dengan adanya grup Warkop yang terdiri Dono, Kasino dan Indro. Mereka hadir dengan guyonan atau joke-joke tersendiri yang enak dinikmati walaupun sebagian orang merasa itu adalah vulgar atau saru.
Di kota kelahiran saya pun, Lamongan – yang “baru” terkenal di seluruh dunia dengan Amrozi-nya, kopi merupakan salah satu menu utama dalam kesibukan sehari-hari. Banyak warung kopi bertebaran di penjuru kota dan bahkan akhir-akhir ini menjadi “komoditi“ tersendiri bagi kota yang dikenal dengan Kota Soto itu. Pagi dini hari setelah melakukan sholat shubuh dan malam hari setelah melaksanakan sholat isya adalah waktu-waktu dimana para penikmat kopi suka berkumpul dan menghabiskan waktunya sambil jagong atau cangkruk (nongkrong sambil ngobrol red.) plus menikmati kopi dan makanan kecil yang tersedia. Temanya apa? Tergantung suasana dan kondisi yang ada, bisa mulai dari politik sampai si mbok jualan tempe di pasar.
Bagi penikmat kopi di kota kelahiran saya itu, warung kopi bukan hanya sebagai tempat dimana mereka bisa menikmati kopi dan nongkrong melainkan juga tempat berbagi, sumber inspirasi, bahkan bisa juga sebagai tempat refreshing. Jika tidak, mana tahan duduk sampai lima jam hanya ditemani segelas kopi panas yang sudah dingin dan gorengan yang mulai keras. Warung kopi adalah ruang bersama, yang merangkai komunitas dari berbagai latar belakang.
Hal-hal sederhana seperti diatas seringkali kita lupakan dalam dunia yang kata orang sudah modern ini. Ritme kehidupan yang ada terkadang tidak memberikan kita ruang dan waktu untuk berpikir dan berbuat sesuatu. Jangankan membantu orang lain, mikir diri sendiri aja susah. Itu yang sering menjadi pembelaan diri kita terhadap situasi dan seolah-olah hanya kita saja yang memikirkan dunia padahal yang hidup di dunia ini kan bukan kita aja.
Bekerja menuntut energi yang luar biasa besarnya. Bagi yang sudah berkeluarga, energi yang dibutuhkan bisa menjadi dua kali lipat atau mungkin malah lebih. Sebagian orang bisa mengatasi hal ini. Dan bagi yang merasa kekurangan waktu dan energi, saya rasa ada baiknya mencoba menghabiskan waktu barang sejenak di warung kopi kesukaan Anda.
Sedikit bersosialisasi dan sekaligus berbagi mungkin bisa memberikan tambahan energi dalam melanjutkan hari yang terlewati. Bagi saya pribadi, di sana saya juga melihat ada sistem gotong royong berbasis kearifan yang ada, seperti tepo-seliro dan biso rumongso (bisa menghayati perasaan orang lain) karena kepercayaan dan keinginan untuk berbagi menjadi aturan tak tertulis dan konkret. Sedikit naif memang kelihatannya, terutama bagi kota besar seperti Jakarta. Namun, kearifan kultural itu pula yang kemudian menyatukan satu orang dengan lainnya, dan bisa jadi dalam sebuah ikatan bisnis yang saling menguntungkan. Adakalanya memang “tatanan bisnis” ini berubah. Namun, ikatan emosional dan di sisi lain kesadaran “orang atau kelompok masyarakat yang membutuhkan“, merupakan sebagian faktor yang menjadi kekuatan.
“There’re always be something fun and interesting about tradition and culture, even the traditional one“ kata salah seorang peserta di Amazing Race 10.
So, sudah minum kopi-kah Anda hari ini?














