Pendekar Kipas Pelangi
Posted by Yainal on Sep 6, 2009 in Dongeng, Inspiration, The Journey
Cuaca pagi itu cerah sekali. Langit di atas desa Kaliurang putih kebiruan. Angin segar bertiup sepoi-spoi basah. Lapat-lapat di kejauhan terdengar riak arus kali kecil, salah satu anak sungai yang mengalir dan menyuburi desa Kaliurang.
Di salah satu tanah menurun di pinggiran barat desa, dua anak lelaki duduk di atas dua ekor kerbau. Mereka berusia antara empat dan enam tahun. Tubuh mereka walau kecil tapi tegap dan pipi mereka kelihatan merah segar pertanda keduanya memiliki badan yang sehat. Sambil menunggal kerbau, keduanya bercakap-cakap dan sesekali diselingi gelak tawa ceria.
“Kakak Adisaka, dua hari yang lalu kau menjanjikan untuk membuatkan puput dari batang padi untukku. Apakah saat ini kita menuju ke sawah mencari batang padi?“
”Adikku”, jawab anak satunya, ”Membuat puput bisa kita lakukan kemudian. Kita harus melakukan pesan ayah lebih dulu. Kerbau-kerbau ini perlu dimandikan. Kau lihat sendiri, badan mereka sangat kotor. Tubuh mereka mulai bau..”
”Tapi kalau mau ke sungai bukankah kita akan melewati sawah. Mengapa tidak mampir saja dulu di sawah. Jadi tidak pulang baik..”
Anak bernama Adisaka itu tersenyum. ”Adikku Adimesa, otakmu cerdik. Aku senang punya adik cerdik. Tapi dibaik kecerdikanmu itu tersembunyi pikiran nakal. Perintah orang tua tidak boleh diabaikan dengan alasan apapun. Adi kita tetap harus memandikan kerbau-kerbau ini sesuai perintah ayah. Nah, sekarang kamu memilih yang mana. Ikuti jalan pikiranmu atau taati perintah orang tua.. ”
Si adik tertawa lebar, ”Tentu saja aku memilih taat pada orang tua. Aku senang punya kakak sebaikmu.”
Adisaka ikutan tertawa lebar. ”Percepat jalan kerbaumu. Matahari sudah tinggi. Makin cepat kita memandikan kerbau berarti makin cepat kita bisa ke sawah mencari batang padi untuk puput..”
”Baik Kak, aku ikut katamu saja. Sambil menuju ke sungai aku ingin kita sama-sama menyanyikan lagu Kami Anak Desa. Kau mau?”.
Adisaka mengangguk. Lalu kedua anak kakak beradik itu mulai menyanyi diatas punggung kerbau masing-masing.
Kaliurang desa tercinta
Terletak di kaki Gunung Merapi
Disana kami dilahirkan
Alamnya indah.. penduduknya ramah..
Kami anak desa
Bangun pagi sudah biasa
Hawa dingin tidak terasa
Kerja di sawah membuat sehat
Kerja di ladang membuat kuat
Kami anak desa
Rajin membantu orang tua
Menolong ibu di rumah
Membantu ayah di sawah
Kami anak desa
Tidak lupa sembahyang mengaji
Rendah hati dan budi tinggi
Selalu unjukkan jiwa satria
Dua puluh tahun kemudian…
Seorang pemuda yang berpakaian biru melompat dari satu potongan bambu ke potongan bambu lainnya yang bertebaran di atas permukaan air. Ada tujuh potongan bambu dan satu sama lain saling diikat dengan seutas tali. Ditangan kiri dia memegang setangkai daun kering berbentuk kipas. Sambil melompat daun kering tangannya dipukulkan kesana kemari. Ternyata angin yang keluar dari kipas daun ini sanggup membuat luruh daun-daun pohon rendah di tepi sungai.
Pemuda itu, Adimesa, masih terus berlatih. Kelak dialah yang akan lebih dikenal sebagai Pendekar Kipas Pelangi, seorang pendekar yang hanya bersenjatakan kipas lipat sederhana yang memiliki tujuh lipatan dan masing-masing alurnya miliki warna berlainan. Walau senjatanya sederhana, dia selalu ingat akan perkataan sang Eyang Gurunya.
”Kipas itu walau benda mati tapi tetap saja mempunyai perasaan. Jika kau merasa sedih atau kecewa maka kipas ini akan merasa tidak tentram berada di tanganmu. Itu sebabnya dia tidak mau diangkat, tidak mau ikut bersamamu. Kecuali jika kau menyadari dan membuang perasaan hatimu yang keliru itu. Kau sekali-kali tidak boleh berkecil hati karena kipas ini hanya kupinjamkan. Padahal itu cuma satu ujian bagimu. Dapat tidak kau memiliki senjata ini untuk selama-lamanya tergantung pada dirimu sendiri. Bagaimana kau menjaganya, bagaimana kau mempergunakannya..”
Note:
“Le, masihkah kau berpikir bahwa pelangi itu jalan pulang para bidadari ke kahyangan?”
*disarikan dari Wiro Sableng, episode Kembali ke Tanah Jawa.
*re-publish dari sebuah catatan lama… 13.01.08












Kaliurang, saya pernah kesana. Tempatnya sejuk.
indotop | Sep 7, 2009 | Reply