Ramadhan, Antara Negeri Dongeng dan Negeri Impian
Setiap sebelum Ramadhan, semenjak di negeri dongeng, saya selalu ingin memulai sesuatu yang berbeda. Saya ingin membuat Ramadhan yang akan saya jalani memiliki makna yang berbeda dengan Ramdhan sebelumnya. Entah itu dari sisi spirutual, kehidupan pribadi, sosial ataupun dari sisi lainnya lagi. Dan jika banyak orang beresolusi di awal pergantian tahun masehi, secara pribadi, saya memilih Ramadhan.
Ya, sebagai manusia, saya memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Saya juga tidak pernah tahu apakah saya masih bisa menikmati Ramadhan berikutnya. Meski begitu, adalah kewajiban saya sebagai manusia untuk berencana dan berusaha dan Tuhan Sang Penguasa Alam yang meridhoinya. Setidaknya, itulah salah satu makna Ramdhan di diri saya.
Dua tahun yang lalu, akhir Ramadhan adalah awal perjalanan saya untuk kembali ke negeri mimpi ini. Negeri yang sudah saya tinggalkan selama kurang lebih 18 bulan lamanya. Semenjak awal Ramadhan, saya mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan kepulangan saya tersebut. Mulai dari urusan keberangkatan saya dari negeri dongeng, sampai dengan sampainya saya di negeri mimpi ini. Perjalanan inilah yang banyak memberi pelajaran berharga.
Satu tahun yang lalu, Ramadhan juga mengajarkan banyak pelajaran berharga bagi saya. Perjalanan hilir mudik Jakarta – Jogja pun saya jabanin saat itu. Sampai akhir tahun malah. Demi apa? Meraih mimpi. Sayangnya, kondisi yang ada membuat mimpi itu tertunda sejenak. Beberapa rencana yang ada pun akhirnya terbengkalai menunggu waktu yang tepat untuk dijalankan.
Saat ini, hampir dua tahun sudah saya menikmati kembali atmosfer negeri impian ini. Di Ramadhan tahun ini, pun saya berharap bisa menjadi awal yang baru dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk Ramadhan tahun ini, Jogja menjadi tumpuan saya. Bertapa kembali di padepokan dan menekuni kembali dunia yang terlupakan. Simple, sederhana, dan secara pribadi, waktu yang ada pun menjadi lebih berharga. Terlebih di kala Ramadhan…
Sembari bertapa, kami mulai merajut kembali semua mimpi dari Jogja. Mempersiapkan semua bekal yang diperlukan, sebelum kami mulai lagi melangkah di awal tahun mendatang. Jangan tanya ada apa di tahun depan.. ingat saja apa yang Anang Hermansyah bilang di Just Alvin (MetroTV), “Saya hanya punya karya yang saya ceritakan..”
Jadi, sebagai penutup kembalinya nulis lagi di tempat curhat digital ini, dengan resmi saya nyatakan episode “dari negeri impian buat negeri dongeng” pun dimulai. Hahahaha.. KOPI GAN… !!!
PS:
*Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin… *















selamat bermimpi…kamu, kamu, kalian…
kopi gan ??!!!
@puan
aminnn.. makasih doanya..
@ilham
ayukkk…