Sepenggal Sore Bersama Tengku Maulana a.k.a Teelo

Pemuda kecil itu sedang berdiri termangu ketika pertama kali bertemu dengan saya. Diam, terlihat culun dan tidak banyak mengetahui apa-apa. Meski begitu, saya melihat pancaran sinar yang berbeda dari dirinya. Entah apa, saya belum bisa menebaknya saat itu.
Teelo atau Ilo, begitu kami akhirnya memanggil pemuda kecil itu. Nama itu pun muncul dari kesukaan dia terhadap makanan sederhana bernama “telo” atau “puhung”. Maklum, dia sendiri tidak mau memperkenalkan dirinya sendiri. Bahkan ketika saya mempertanyakan namanya pun, dia hanya diam dan tersenyum. Alhasil kami pun harus memberikan nama, dan Teelo, Tilo, atau Ilo adalah nama yang kerap di sandang ketika kami semua sedang berkumpul, bercanda tawa, dan berkomunikasi satu sama lain.
Di usianya yang masih kurang dari 5 tahun saat itu, Teelo terhitung sebagai anak yang cerdas dan pembelajar cepat. Tak jarang, saya sendiri kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul jika otaknya yang kecil itu sedang bekerja. Karakternya yang tidak mau kalah ilmu dan pengetahuan dengan orang lain, dan bukan cuma untuk yang sebaya saja, membuatnya sebagai pembelajar yang tangguh dan tidak mudah menyerah dalam segala kondisi kesulitan dalam proses belajar.
Tahun pertama ketika Teelo bersama kami adalah tahun-tahun dimana dia berubah menjadi pembelajar sejati sekaligus menjadi pejuang yang tangguh. Ya, atas nama kehidupan, kami saat itu sedang berjuang untuk sesuatu yang mungkin di luar nalar kebanyakan manusia. Dan itulah tahun-tahun sulit dimana kami harus menyatukan asa, rasa, dan sekaligus logika dalam menjalani kehidupan sekaligus bertarung atas nama nyawa. Dan inilah yang saya kagumi dari dia. Dia berhasil mendewasakan dirinya sendiri di usianya yang masih kecil, dan lebih dari yang seharusnya untuk pemuda kecil yang sebaya dengan dirinya.
Di waktu yang sama, Teelo juga mulai berkenalan dengan budaya dan tradisi Jogja. Saya ingat, pasar malam Sekaten adalah masa-masa yang paling ditunggunya. Setiap sore, dia selalu tidak pernah lupa mengajak saya untuk jalan-jalan ke alum-alun utara Jogja. Selayaknya anak-anak seusia dia, dia pun ingin bermain di sana sambil belajar tentang budaya dan tradisi Jogja. Baginya, belajar itu tidak terbatas ruang dan waktu. Strata yang ada pun tidak bisa membatasi seseorang dalam menuntut ilmu. Terbukti, darah biru yang mengalir di pembuluh darahnya pun tidak membuatnya malu untuk belajar kepada kalangan bawah dan puritan.
Bagi Teelo, ilmu itu sejatinya tidak mengenal strata. Adanya level atau strata dalam ilmu itu hanya wujud dari pengkotak-kotakan yang dibuat oleh manusia sendiri. Persepsi dalam memandang posisi and kedudukan suatu ilmu oleh manusia sendirilah yang menciptakan strata itu, bukan ilmu itu sendiri. Dan budaya serta tradisi membuat pengkotak-kotakan itu menjadi semakin langgeng.
Hahaha.. pernah bayangin kata-kata seperti itu muncul dari mulut seorang anak berumur 5 tahun?
Tapi itulah yang buat saya takjub dan tabik. Saya sendiri pun belajar banyak dari dia. Seringkali, kalimat-kalimat sederhana yang muncul dari mulut kecilnya itu menjadi pengingat bagi langkah kami. Ya, kalimat sederhana. Tapi jika disimak lebih dalam, kalimat-kalimatnya yang sederhana itu sudah menunjukkan kebijaksanaan tingkat tinggi. Jadi, jangan heran jika dalam usia yang masih begitu kecil, dia sudah menjadi pemimpin di pondok pesantren yang diampu oleh kakek gurunya.
Hari ini, saat hujan turun deras di pelataran depan rumah saya, saya kembali ingat jika pasar malam Sekatan kembali sudah dibuka beberapa hari yang lalu. Dan saya rindu untuk jalan-jalan disana, menghabiskan sepenggal sore, sambil mendengarkan celoteh ringan dan kalimat-kalimat bijak dari seorang Tengku Maulana a.k.a. Teelo.
*tunggu Pak’e ya Le…














