Belajar dari Kontroversi Sang Kolaborator
”Aku akan melakukan kerja sama sekalipun dengan setan yang terkutuk, jika hal itu membantu kemerdekaan negeriku” – Soekarno
Kata-kata diatas tertulis (dengan indah) di salah satu buku yang (sudah) saya baca, Kontroversi Sang Kolaborator (hal. 92). Dari sekian banyak buku yang tergeletak, buku ini kembali mewarnai hari-hari di minggu kemarin. Saya memang sudah membaca buku itu beberapa waktu yang lalu. Dan saat itu, aktivitas membaca itu lebih banyak saya lakukan atas nama tuntutan telusur sejarah. Tidak lebih.
Lalu, kenapa baca lagi? Cari ide dan insight baru! Itu jawabannya.
”Elok tenan.. mumet kok malah baca buku. Mbok yo dugem atau apa gitu.. lebih keren dikit”, kata teman saya.
”Wangun toh… ”, jawab saya singkat.
Ya, dalam konteks yang berbeda, dunia yang sedang saya geluti sekarang ini mungkin sedang bergerak ke aras yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno dulu. Dan ketika saya menjadi seorang kolaborator, banyak situasi dilematis yang harus saya jalani. Situasi dimana saya diuji dan harus menentukan sikap, meski waktu seringkali tidak berpihak. Lebih dari itu, seringkali resiko yang harus ditanggung pun adalah menjadi tidak populer, dicela, atau semacamnya.
Selain itu, meski kolaborasi menjadi salah satu kunci sukses dalam persaingan, kolaborasi itu sendiri tidak akan pernah lepas dari kontroversi. Bagi mereka yang melakukan kolaborasi, seringkali tidak akan luput dari rasa curiga oleh sejumlah orang yang beranggapan bahwa mereka itu opportunis. Di sisi yang lain, tidak lepas pula resiko yang menyatakan bahwa kolaborator itu berbahaya dan tidak dapat diterima.
Jangan lupa, kolaborasi juga memiliki sisi buram. Ini kerap kali berhubungan dengan masalah moral dalam praktek dan implementasi dari kolaborasi itu sendiri. Tidak heran, hal ini dikarenakan kolaborasi itu seringkali memakan ”korban” dalam mencapai tujuan besarnya. Kadang sedikit, kadang tidak. Inilah yang selalu menjadi pertarungan batin tersendiri bagi para kolaborator. Berat tidaknya pertarungan batin pun tergantung dari pondasi yang dimiliki oleh sang kolaborator.
Nah sialnya, kadang (atau seringkali?) ketiga hal diatas itu (dilema, kontroversi dan sisi buram) terjadi dalam situasi yang bersamaan. Disinilah pondasi kepemimpinan sebenarnya dipertaruhkan. Lalu, jika sudah begitu, bagaimana mengatasinya? Bagi saya, kuncinya adalah keteguhan hati pada tujuan utama.
*Insya Allah, Blog Action Day versi Bahasa Indonesia akan tersedia pada tanggal 22 Agustus.
*gambar diambil dari sini















Terima kasih telah membaca buku saya. Semoga bermanfaat!
Salam
Hendri F. Isaneni
Terima kasih telah membaca buku saya. Semoga bermanfaat!
Salam
kolaborasi? hmmmm…. istilah ini selalu mengingatkan saya pada keragaman budaya di negeri ini. jika dikolaborasikan akan membentuk sebuah mozaik yang indah, asalkan tak ada tangan2 jahil yang menjamahnya.
terima kasih telah membaca komentar saya.
semoga bermanfaat!
salam-an