Episode Negeri Mimpi

Manajemen Punakawan untuk Pengusaha

Jikalau Nukman Luthfie menyebutkan bahwa ada tiga syarat untuk jadi pengusaha, maka saya – dalam implementasinya – (secara sadar atau tidak) menerapkan manajemen Punakawan. Sebuah manajemen sederhana ala wong ndeso.

Manajemen Punakawan untuk Pengusaha

Punakawan merupakan tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan (yang lucu-lucu). Tokoh-tokoh ini dalam sejarahnya tidak ditemui dalam kisah Mahabharata asli atau versi mitologi Hidu. Konon, tokoh-tokoh ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga, atas saran para Wali lainnya juga, sebagai salah satu media dalam melakukan penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Punakawan terdiri dari empat tokoh denga berbagai karakter yang unik di dalamnya. Ada Semar, Petruk, Nala Gareng dan juga Bagong. Menilik karakter yang ada, Semar adalah si bijak yang kaya ilmu dan memiliki sumbangsih yang besar pada ndoro-ndoronya lewat petuah-petuah yang disampaikan, meski kadang dengan gaya bercanda. Sementara itu, Gareng adalah tokoh yang tidak cakap dalam berkata-kata walau sebenarnya memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa, cerdik dan pandai. Alhasil Gareng lebih sering menjadi tokoh dibalik layar dengan ide-idenya yang dijalankan oleh orang lain. Tokoh lain, Petruk, memiliki watak sebagai tokoh yang tidak punya kelebihan apa-apa selain banyak omong. Sedangkan si Bagong, dia ini lebih pada bayang-bayang Semar, cerdas dalam menyampaikan kritik-kritik lewat humor yang dilontarkan, mungkin dapat disamakan dengan tokoh abu nawas atau Nasrudin dalam kisah-kisah humor sufi.

Nah, jikalau Sunan Kalijaga menciptakan tokoh punakawan sebagai salah satu upaya beliau untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, maka saya mempergunakan hakikat yang tersirat di dalamnya dalam menjalankan aktivitas. Bagaimana itu bisa terlaksana? Sederhana.

Semar berasal dari kata Arab simaar atau ismarun yang artinya paku. Paku adalah alat untuk menancapkan suatu barang, agar tegak, kuat dan tidak goyah. Semar juga memiliki nama lain, yaitu Ismaya, yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan. Karena itu usaha yang dilakukan harus didasari keyakinan yang kuat agar usaha tersebut tertancap sampai mengakar.

Salah satu rekan saya pernah bilang bahwa jika kita ingin menjalankan usaha, maka perlu orang yang punya banya teman dan bisa jualan. Jika penjualan berjalan dengan lancar, maka roda usaha pun bisa berputar. Nah, disinilah tokoh punakawan yang lain, Nala Gareng, bertindak. Nala Gareng sejatinya berasal dari kata naala qorin yang artinya memperoleh banyak kawan… memperluas sahabat. Bahasa ndeso-nya, networking. Tidak jarang, pekerjaan datang dari kawan tanpa pernah diduga-duga.

Bagaimana dengan Petruk dan Bagong?

Petruk diadaptasi dari kata fatruk yang artinya tinggalkan yang jelek. Selain itu, Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Yang Maha Kuasa secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas, seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang. Sejalan dengan orang berusaha, sikap kemantapan dan keteguhan yang tanpa pamrih dan ikhlas niscaya akan memberikan hasil yang terbaik. Sayangnya, banyak orang yang mengartikan terbaik itu adalah mendapatkan atau memperoleh sesuatu, padahal tidak selalu begitu.

Tokoh yang terakhir, Bagong, berasal dari kata bagho yang artinya pertimbangan makna dan rasa, antara yang baik dan buruk, benar salah. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng. Bagi saya, ini sama halnya dengan sikap instropeksi yang terus-menerus walau sudah terasa nyaman di badan. Kenapa? Agar usaha yang dilakukan bisa kekal yang langgeng karena usaha itu penuh dengan ketidakpastian.

Note:
“Le, usaha itu kadang jalannya muter ndak karuan.
Dan kadang.. saking jauhnya perjalanan.. keluhan, umpatan atau keputusasaan itu muncul. Ndak papa, lha kita ini manusia kok. Ndak ada manusia yang sempurna toh? Nikmati saja.. itu bagian dari proses. Lihat pohon kelapa depan rumah itu, semakin tinggi semakin kenceng kan goyangannya. Angin yang bertiup semakin kuat soalnya.. Dan jikalau ada pertengkaran dan perdebatan, cepet selesaikan.. semakin lama ndak diselesaikan itu malah menunda nikmatnya pengertian…”

Comments

11 Responses to “Manajemen Punakawan untuk Pengusaha”
  1. Nice posting mas Yainal. Ternyata budaya wayang menyimpan wisdom bisnis ya

    secara tidak langsung itu yang saya lihat pak.. banyak sebenarnya wsdom bisnis yang ada dalam wayang, hanya saja mungkin sudah banyak terlupakan atau tergali..

  2. andik says:

    apik tenan tulisan iki bos,jadi inspirasi ke depan …..
    tapi untuk membentuk Punakawan manajemen dalam organisasi atau bisnis biasanya susah cari orang yang sesuai,….
    kiro-kiro piye model rekrutmennya?

    bukannya kamu juga sudah melakukannya.. entah kamu sadari atau tidak.. :)

  3. icha says:

    nah kalo dirimu jadi apanya Nal? :p

    nah kemaren hari kita beli lukisan wayang apa ya? .. :p

  4. salam kenal mas yainal??
    ngomongin soal punakawan asik sekali apa lagi klo digali satu persatu,tapi untuk membedahnya satu persatu mungkin butuh waktu yang setara dengan tujuh hari berkuda, klo ada lagi pengalaman,artikel,referensi gambar dan hal2 yang berkaitan dengan punakawan kiranya sudilah berbagi dengan kami.
    o ya knaren tim kami juga meng-eksplore punakawan menjadi media publikasi
    klo berkenan melihatnya silahkan mampir di http://iqbalrekarupa.blogspot.com/

    maturnuwun (terimakasih)

    salam kenal juga mas iqbal..
    ngomongin punakawan memang asyik mas, palagi kalo explorasi utk melepaskan belenggu kreativitas.. salut juga utk explore punakawan fky-nya..
    :)

  5. nindya says:

    mas,..salam kenal yach mas,..gini,..saya jual lukisan wayang dari kaca dan kanvas,..tapi belum terlalu populer,..mas bisa bantu???contoh2nya ada di blog saya mas,..thx

    salam kenal balik.. maaf, bantu dimananya ya?

  6. wijaya says:

    wah emang g salah tu………bagus bagus bagus

  7. umi fadlilah says:

    tolong donk artikel punakawan untuk anak tk

  8. Semar mesem says:

    Sudah sulit mencari manusia Indonesia yang masih punya jati diri dan berkarakter “baik”. Singkatnya, karakter itu sopan, jujur, sportif, bertanggung jawab, konsisten, teiliti. Orang yang berkarakter tidak takut bersaing. Jadi adanya ACFTA dll tidak usah ditakuti.

  9. tonton says:

    mas Yamil, artikelnya bagus banget. btw mas, tentang sejarah terciptanya Punakawan pertama kali oleh Sunan Kalijaga ada bukunya ga? kebetulan saya juga lagi cari tentang sejarah terciptanya untuk kepentingan studi saya mas. Kalau ada bukunya tolong diberitahu judulnya mas. makasi.

  10. Yainal says:

    @tonton
    kalo sejarah dalam pengertian runut tentang bagaimana punakawan diciptakan.. saya belum tahu bukunya.. tapi kalo beberapa hal yang berhubungan dengan penciptaan tokoh punakawan, sejauh yang saya ingat ada di beberapa buku yang berkaitan dengan sunan kalijaga dan juga tentunya sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa..

    semoga membantu.. :)

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. [...] acara penobatan dirinya selesai, dia duduk bersama Petruk dan Nala Gareng – dua orang punggawa Punakawan. Mereka bertiga asyik bercakap-cakap. Petruk dan Nala Gareng banyak mendominasi pembicaraan. [...]



Leave a Reply