Putra, Sang Programmer

Pemuda itu masih terduduk diam di depan layar laptop bulukan milik saya. Terlihat serius. Dan dengan wajah yang terlihat sedikit kusut pula. Sama sekali tak terlihat tanda-tanda keceriaan di matanya.
“Hmm.. apakah kode-kode pemrograman yang sedang disusunnya itu sudah begitu memusingkan kepalanya? Ah sudahlah.. saya tidak ingin mengganggu kenikmatannya ber-coding ria!“, pikir saya.
Putra, begitu saya menyebutnya. Tiga kali sudah ia datang ke Jogja. Dan kali ini, saya memang sengaja memintanya datang dengan alasan deadline kerja. Salah satu alasan paling ampuh yang bisa memaksanya datang. Maklum, dia masih kuliah dan sibuk juga berorganisasi. Meski masih terhitung muda, saya sudah bisa mempercayainya sebagai salah satu lead programmer dalam urusan kerjaan yang berhubungan dengan coding.
Di dunia yang berbeda, dia memilih tenpointseven sebagai salah satu maiden name-nya. Dan ketika pertama kali saya menanyakan tentang alasan pemilihan nama itu, dia hanya mengelak sambil berkata, “Ada dehhhh“.
“Bajigur tenan!“, umpat saya.
Atas nama penasaran, di lain waktu, saya pernah menanyakan kembali pertanyaan yang sama. Sambil nyengir dia berkata, “Itu nama kelasku dulu di SMA, awal dimana aku memulai semuanya. Puasss? Hehehe…“.
Aha! Rupanya itu alasan dia…
Ya, saya ingat dengan persis. Saat itu, dia datang dan berkata kepada saya, “Aku mau belajar komputer…”.
“Buat apa?”, tanya saya.
“Pokoknya pengen.. tapi nggak ada komputer”, jawab dia.
“Kalau kamu memang benar-benar ingin belajar.. ya jangan terbawa sama kondisi. Pengen belajar komputer? Nggak ada komputer? Ya cari cara! Entah gimana.. yang penting kamu masih tetap dapat belajar meskipun nggak ada komputer..”, kata saya.
Beberapa waktu setelah diskusi itu, saya mendengar bahwa dia mulai menyisihkan uang saku sekolahnya yang tidak seberapa. Uang yang telah dikumpulkannya itu kemudian dipakai untuk ikut kursus komputer. Lain waktu, saya mendengar pula bahwa dia – bersama temannya – sedang asyik menjadi tukang parkir untuk mencari uang tambahan. Dan tiga bulan setelah ada komputer butut di rumahnya, dia berkata singkat kepada saya, “Aku sudah belajar programming..“.
Apa? Pemrograman? Untuk anak seumuran dia?
Itu reaksi saya saat itu. Tapi kenyataanya, dia memang melakukan hal yang tidak saya percayai. Bahkan, aktivitas dia “bercinta” dengan komputer itu semakin merajalela. Ibunya sendiri malah sempat mengeluh dan meminta saya untuk menasehatinya agar mempelajari pelajaran di sekolah juga. Hahaha..
Kini, setelah sepenggalan waktu berjalan. Di tahun keduanya kuliah, Putra sudah bisa melakukan beberapa hal teknis yang bisa dibilang melebihi saya. Oleh karena itu, saya sudah bisa mempercayainya sebagai lead programmer. Meski tetap harus dituntun. Maklum, “kerja” dan “belajar” itu dunia yang berbeda. Belajar, dalam pandangan saya, bisa tak terbatas oleh waktu. Selain itu, belajar memperbolehkan kita untuk mengikuti rasa penasaran atas ketidaktahuan. Masalahnya, di dunia kerja, kita dikejar tenggat waktu. Pekerjaan harus selesai, dan tidak ada alasan untuk pekerjaan yang belum selesai. Bahkan, lebih baik lagi jika kita bisa memberikan hasil yang terbaik dan melebihi harapan dari pemberi kerja.
Note:
Keterbatasan bukanlah penghalang, tapi kesempatan..
*gambar diambil dari sini















saya enggak ngerti program
setuju dengan quote keterbatasan bukan penghalang. banyak mereka selali mengeluh hal yang bagus dulu dan baru mereka bisa…
soale gue juga merasakan hal yang sama dengan putra. semoga putra bisa menjadi inspirasi teman2 yg lain