Episode Negeri Mimpi

Belajar Menjadi Seorang Kolaborator (Pekerja Independen)

Posted by Yainal on Dec 7, 2007 in Study and Career, Working Styles | 1 Comment

Berkolaborasi sesama pekerja independen terkadang memang tidak memerlukan leadership, tapi hal ini bukan berarti tidak ada leader dalam suatu project yang berjalan. Tetap harus ada, dan disinilah fungsi seorang kolaborator (atau apapun istilah yang mewakilinya).

Seorang kolaborator (para pekerja independen) biasanya memang banyak bergerak di belakang layar.  Dan seperti layaknya seorang project manager, seorang kolaborator pun biasanya banyak berkutat di seputaran konsep, project management, financial planning atau bahkan career planning agar project selalu bisa berjalan dan selesai memenuhi deadline yang ada.

Peran ini memang secara sekilas tidak menuntut sang kolaborator untuk memiliki kemampuan teknis yang mendetail dan mendalam. Meski begitu, bukan berarti sang kolaborator bisa berdiam diri seenak perutnya. Kolaborator pun dituntut untuk selalu mengembangkan dirinya dan termasuk didalamnya adalah belajar kemampuan teknis bidang yang digelutinya untuk menunjang kinerja yang ada. Ketika sewaktu-waktu diperlukan menjadi backup salah seorang rekannya misalnya, atau secara tiba-tiba salah seorang rekannya mengundurkan diri dari tanggung jawab yang diembannya, atau bisa juga ketika bertemu dengan klien yang menuntut penjelasan sedikit mendetail tentang pekerjaan yang akan dilakukan.

Menjadi seorang kolaborator, terutama bagi para pekerja inpedenden, dituntut pula untuk aware dengan isu-isu personal dari setiap team member – baik yang sedang bekerja bersama dalam satu project ataupun yang hanya bersifat sosial. Bukan bergosip ria memang, tapi lebih pada sisi pekerjaan – bagaimana suatu pekerjaan bisa terselesaikan dalam kondisi yang terburuk misalnya.

Selain itu, salah satu keharusan lainnya adalah mengetahui load kerja dari masing-masing orang yang akan atau sedang bekerja dalam satu team yang dipimpinnya. Hal ini penting sekali karena seorang kolaborator harus bisa juga menghitung apakah salah seorang rekan bisa menyelesaikan pekerjaan baru atau tidak. Ini yang terkadang susah dilakukan. Egoisme, idealisme, mimpi dan tak jarang kepentingan pribadi bertumpuk menjadi satu.

Comments

One Response to “Belajar Menjadi Seorang Kolaborator (Pekerja Independen)”

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. [...] sedang bergerak ke aras yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno dulu. Dan ketika saya menjadi seorang kolaborator, banyak situasi dilematis yang harus saya jalani. Situasi dimana saya diuji dan harus menentukan [...]



Leave a Reply