Episode Negeri Mimpi

Membangun Usaha Kreatif a la Jogja

Lelaki di Stasiun GambirLelaki itu berjalan tergesa menaiki anak tangga menuju lantai 2 stasiun Gambir, Jakarta. Berkali-kali ia melihat jam di tangannya. Terburu dan sedang mengejar waktu. Maklum, tak lama lagi kereta api Taksaka yang akan dinaikinya itu segera diberangkatkan. Tak lama kemudian, sampailah ia di lantai paling atas. Sambil sedikit berlari, ia mencari nomor gerbong dimana tempat duduknya berada. Setelah ketemu, dan mengkonfirmasikannya ke petugas PJKA yang da di depan pintu masuk kereta, ia pun masuk dan mencari tempat duduknya.” Ahh.. akhirnya ketemu juga”, pikirnya.

Jogjakarta. Siapa yang tidak kenal dengan kota yang satu ini. Kota sejuta budaya, sejuta inovasi dan sejuta mimpi. Ke kota inilah lelaki itu akan melabuhkan perjalanannya kali ini. Tiga bulan terakhir ini, hampir tiap minggu ia melakukan perjalanan Jogja – Jakarta. Saking seringnya ia berpulang pergi ria, salah seorang temannya sempat berkomentar “Ngapain lu bolak balik kayak gini. Mending lu tinggal di Jakarta aja. Toh kemampuan yang lu punya juga bakal dihargain disini. Lebih malah.. jika dibandingin dengan di Jogja”. Mendengar perkataan temannya itu, lelaki itu , sambil tersenyum, hanya menjawab singkat, “Demi mimpi…”.

Perjalanan yang terakhir kali di tahun 2008 ini memiliki makna yang berarti bagi lelaki itu. Hari ini, selesai sudah semua tanggung jawab salah satu project yang ditanginya. Itu berarti, ia sudah bisa memfokuskan diri lebih dalam lagi meraih mimpinya. Menyongsong tahun depan, 2009. Banyak sudah rencana yang ada di dalam otaknya. Dan salah satunya adalah “menaklukkan” Jakarta.

Di samping tempat duduk lelaki itu, duduk seorang lelaki lain. Seorang Bapak, masih terlihat muda dan necis. Bapak itu sedang menelpon. Dan nada-nada suara yang ada,  terdengar sayup jika ia sedang membujuk anaknya. Ketika sang lelaki sedang memandang keluar jendela kereta, tatapan matanya beradu dengan tatapan mata sang Bapak. Sambil tersenyum, Bapak itu berkata, “Anak saya…”. Mendengar kata sang Bapak, lelaki itupun membalas dengan senyuman.

“Tadi itu anak saya Dik.. sedang ngambek karena ditinggal Bapaknya keluar kota. Saya memang berjanji kalo esok hari akan ajak dia jalan-jalan dan berenang. Sayangnya ada panggilan tugas mendadak yang membuat saya mau tidak mau harus berangkat. Dan disinilah saya.. bersama Adik di kereta ini..”, kata sang Bapak.

“Mau ke Jogja juga Pak..”, tanya sang lelaki.

“Iya.. mau cek schedule project yang ada disana. Adik sendiri?”

“Ke Jogja juga Pak.. balik..”, kata sang lelaki.

“Ohh.. emang tinggal di Jogja ya?”, tanya sang Bapak.

“Iya Pak.. kali ini ke Jakarta untuk urusan kerjaan juga.. “, jawab lelaki itu.

“Ehmm.. kerjaan apa?”, tanya sang Bapak kembali.

“Pelatihan aja kok Pak.. untuk yang kali ini..”, jawab sang lelaki itu kembali.

“Bidang?”

“Bisa dikata untuk yang kali ini di bidang Teknologi Informasi..”, jawab sang lelaki itu.

“Boleh tahu detailnya? Maaf, kebetulan saya juga sedang proses mencari solusi TI soalnya.. siapa tahu kita cocok..”, ucap sang Bapak kembali.

“Ehhmm.. Untuk yang tiga hari terakhir ini sebenarnya hanya pelatihan untuk pengguna dari aplikasi yang kami buat. Di bidang TI tentunya. Beberapa bulan ini kami develop satu aplikasi.. on demand dan custom made.. Pelatihan ini dibutuhkan agar pengguna terbiasa dengan sistem yang kami buat, plus kami juga menggali jika ada masih kekurangan lagi dalam aplikasi tersebut. Alhamdulillah.. hasil hari ini memuaskan.. “, kata lelaki itu.

“Oke.. sekarang giliran saya… saya akan coba kasih tahu beberapa hal yang saya inginkan.. kemudian coba Adik kasih saya gambaran ke saya mengenai solusi teknis yang memungkinkan, plus estimasi waktu yang butuhkan dan juga sekaligus biayanya..”, tanya sang Bapak.

“Boleh Pak.. siapa tahu kami bisa membantu..”, kata lelaki itu.

Tak lama setelah mendengar jawaban lelaki itu, sang Bapak pun kemudian menguraikan beberapa gambaran yang dibutuhkan oleh perusahaannya. Satu demi satu. Diskusi pun kemudian terjadi. Teknis dan spesifik, mengarah ke kebutuhan dari sang Bapak. Setelah sekian lama berdiskusi, sang Bapak pun kemudian bertanya, “Ada informasi website yang bisa saya akses Dik? Perusahaan Adik maksudnya..”.

Lelaki itu pun kemudian menyebutkan alamat website perusahaannya. Sang Bapak mengeluarkan telepon genggamnya dan mencoba mengakses website yang disebutkan oleh lelaki itu. Sambil mengakses informasi dari telepon genggamnya, tak lupa sang Bapak juga menanyakan beberapa hal yang masih tidak dimengertinya. Setelah beberapa waktu, sang Bapak pun bertanya kembali, “Suka ngeblog juga nggak Dik?”.

“Hehehe.. iya Pak…”, jawab sang lelaki.

“Boleh tahu juga alamat blognya?”, tanya sang Bapak kembali.

Sang lelaki pun menyebutkan alamat weblog yang dimilikinya. Sang Bapak pun kemudian asyik berseluncur ria membaca weblog lelaki tersebut. Setelah sekian waktu berlalu, sang Bapak pun berkata, “Bisa kirim penawaran tentang solusi yang kita diskusikan tadi ke saya Dik? Saya di Jogja sampai besok. Dan sore harinya saya sudah harus ke Surabaya. Harapan saya, penawaran itu sudah saya terima sebelum saya tiba di Surabaya. Gimana?”.

“Boleh Pak.. insya Allah, sore hari penawran berikut proposalnya sudah bisa Bapak terima..dan jika sesuai, detail teknisnya nanti bisa kita diskusikan kembali..”, kata sang lelaki.

“Mantapp.. ini ya gaya anak sekarang bekerja.. terlebih mereka yang bergelut di TI.. serba cepat dan efisien.. saya pun merasa dienakkan dengan teknologi.. terlebih untuk urusan handphone.. wuihh.. seperti tadi, saat itu juag saya langsung bisa menelusuri informasi yang ingin saya dengar.. “, kata sang Bapak.

“Saya sering ketemu orang seperti Adik di perjalanan. Itulah salah satu alasan kenapa saya suka naik kereta. Pesawat memang jadi pilihan dari sisi waktu. Jika agak lenggang, saya lebih memilih kereta. Saya bisa bertemu dengan orang-orang tak terduga. Dan pertemuan tak terduga ini, asyiknya adalah banyak yang berlanjut juga ke bisnis. Jika nanti kita bekerja sama, dan juga hasil kerja bagus, tidak menutup kemungkinan kan kita bekerja sama dalam jangka panjang?”, lanjutnya

“Betul Pak.. setuju.. teknologi pula yang menyatukan saya dan teman-teman sekarang.. baik itu yang urusan kerja, maupun hanya sebatas silaturahmi.. jauh berbeda dengan dulu..”, kata sang lelaki.

“Hehehe.. iya.. saya juga begitu. Sekarang saya ijin untuk istirahat dulu ya Dik.. saya rasa kita berdua membutuhkannya..”, kata sang Bapak.

“Silahkan Pak…”, jawab sang lelaki.

Sang Bapak pun kemudian memasang selimut yang ada. Dan tak lama kemudian, sang Bapak pun terlihat terlelap dalam tidurnya. Sang lelaki pun tak mau ketinggalan. Ia pun memasang selimut di tubuhnya dan beristirahat mengikuti sang Bapak. Tak lupa, sebelum tidur, ia mengingatkan dirinya untuk membuat dan mengirimkan penawaran yang dijanjikan tadi itu esok hari.

Lelaki itu adalah saya.

*gambar diambil dari sini via Google (tidak punya photo di Gambir soalnya)…

Comments

16 Responses to “Membangun Usaha Kreatif a la Jogja”
  1. semoga deal dan lancar, amin

    aminnn.. :)

  2. resi bismo says:

    biar sukses ya nal dan lancar semuanya.

    hoffenlich…

  3. elly.s says:

    wah bakal dapet proyek gede neeh…
    bagi2 ya…

    bagi-bagi ringgitnya juga ya.. :)

  4. selamat menakulkkan jakarta, mas yain, semoga sukses. tahun 2009 semoga menjadi awal yang bagus utk mendapatkan banyak berkah dan keberentungan. sukses selalu buat mas yain.

    aminn … menaklukkannya dari jogja pak… :)

  5. icha says:

    plok plok plok buat “saya”

    ditunggu di jakarta ya..:)

    itu a la sheila on 7.. kalo a la dagadu, kapan ke jogja lagi? .. :)

  6. hasyim says:

    Katanya ngga suka pake selimut?

    selimut jepang?

  7. onabunga says:

    lho, kenapa bisa bareng-bareng nulis dengan kata kunci “kreatif” ya. beberapa teman juga nulis dengan kata kunci ini. dengan sudut pandang yang berbeda tentunya.

    semoga sukses menaklukkan Jakarta. Jangan lupa hasilnya dibawa ke Jogja. Selalu ada jalan ke Jogja kan : senjata makan tuan. kedudukan seri……….. :)

    bukannya tahun 2009 adalah tahun kreatif indonesia?

  8. icha says:

    @Mbak Ona: Yainal kelelekan bumerang yaks, makanya disebut senjata makan tuan? heheheheh

    kedudukan seri? hmm… aku jadi wasitnya aja deh,,:p

  9. icha says:

    @Hasyim: hush Syim, yang dipake yainal itu selimut bawa sendiri dari rumahnya alias sarung yang notabene sudah lama tak dicuci itu :p

  10. icha says:

    @Yainal: kok jadi aku yang balesin komentar? sibuk packing ke jakarta kah? hahahahahhha…

    makasih tlah dibantu jawab.. :)

  11. TENGKU PUTEH says:

    saya lebih memilih kereta. Saya bisa bertemu dengan orang-orang tak terduga. Dan pertemuan tak terduga ini, asyiknya adalah banyak yang berlanjut juga ke bisnis ==> terserah urusan bisnis, tapi kata2 itu bgt dalam sehigga bergema berulang2 ditelinga Abu….

    selalu ada yang tak terduga dalam setiap perjalanan.. itu jika kita juga jeli.. :)

  12. a! says:

    jd inget tulisannya andreas harsono tentang dirinya sendiri. endingnya mak plek! :D

    hehehe.. sama ya cak? aku malah belum tahu… masih kurang banyak membaca kali ya.. :)

  13. Yohan says:

    Pengalaman pribadi yah, Salam kenal Blogwalking :)

    indeed.. *salam kenal balik

  14. aini says:

    saya juga lagi bulak balik kotagede-jakarta-bandung.
    mengejar mimpi juga.
    mari sukses bersama Mas!!!
    Amin

  15. andik says:

    dan lelaki itupun ku jemput di stasiun tugu,….
    kapan diantar ke stasiun lagi,…. hehehee.

  16. Yainal says:

    @andik
    terima kasih sobat..

    selalu ada stasiun dalam setiap perjalanan, dan kau selalu menjadi salah satu bagian disitu.. :)

Leave a Reply